Mahasiswa Terlantar karena Kebijakan Pemerintah
Kuala Lumpur – 49 Siswa yang hendak studi ke Universitas Al Azhar disebut-sebut terkatung-katung di Malaysia. Sebagai agen, PT Fikruna Center beralasan hal itu disebabkan perubahan kebijakan pemerintah, baik Indonesia maupun
Malaysia.
“Kebijakan pemerintah Indonesia dan perubahan situasi politik di Malaysia yang sangat mempengaruhi,” ujar mantan Direktur PT Fikruna Center Imam Jazuli dalam rilis kepada detikcom, Selasa (16/12/2008).
Imam menjelaskan, pada April 2008 diadakan Workhop di mesir oleh pihak KBRI Kairo dan Departemen Agama bekerjasama dengan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) di Mesir. Hasil workshop tersebut salah satunya rekomendasi penghentian pengiriman pelajar ke Universitas Al Azhar melalui Malaysia.
Bersamaan dengan itu, Imam melanjutkan, pemerintah Malaysia mengeluarkan kebijakan muadalah (persamaan) terhadap 18 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) se-malaysia dengan Universitas Al Azhar. Dengan kebijakan tersebut, STAI-STAI di Malaysia tidak boleh lagi mengirim siswa ke Universitas Al Azhar. Pengiriman hanya berlaku terhadap PT-PT dibawah pemerintah.
“Akibatnya, kerjasama yang selama ini terbangun antara Universitas Al Azhar dengan ma’had-ma’had atau STAI-STAI di sana terputus. Termasuk kerjasama Madiwa dengan Al Azhar. Jadi posisi kami terjepit, sedangkan kami sudah mengirimkan siswa. Tidak mungkin tarik lagi,” ungkapnya.
Bahkan master jebolan Universitas Kebangsaan Malaysia ini menduga, kebijakan pemerintah negeri jiran tersebut terkait karena partai pemerintah merasa gerah disebabkan alumnus STAI Malaysia yang melanjutkan studi ke Universitas Al Azhar banyak yang berpihak ke partai oposisi saat mereka pulang ke Malaysia.
Imam juga mengatakan, setelah kebijakan tersebut keluar, Madiwa terus mengusahakan melobi pihak Universitas Al Azhar. “Tapi gagal dan Madiwa
sudah menginformasikan ke siswa-siswa tanggal 23 September 2008 kalau upaya yang dilakukan untuk melobi Al Azhar gagal. Dari sinilah terjadi kegelisahan dan kesimpang siuran,”ungkapnya.
Oleh sebab itu, kata Imam, Madiwa memberikan alternatif bagi siswa bisa melanjutkan ke UIN Riau dan KUIS (Kolej Universitas Islam Antarabangsa Selangor) Malayasia.
Sedangkan Fikruna memberikan solusi dengan membantu mereka pindah studi ke universitas-universitas Islam di Indonesia seperti Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Islam Nusantara (Uninus),
“Sekarang ini ada 20-an lebih siswa tersebut telah melanjutkan studi di universitas di Indonesia. Sisanya masih ada 15 siswa lagi di Malaysia dengan harapan tahun depan mereka dapat melanjutkan studi ke Saudi Arabia sesuai yang dijanjikan pihak Madiwa,” pungkas Imam.(rmd/ndr)
detik.com


Comments
Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!