Beasiswa S2 dan S3 Luar Negeri bagi Dosen PTN dan PTS
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI
Jalan Raya Jenderal Sudirman, Pintu I Senayan, Tromol Pos 190 Jakarta 10270
Telp. (021) 57946100 (HUNTING) Telp./Fax. : (021) 57946052, 57946053
Dalam rangka peningkatan mutu dosen, Direktorat Ketenagaan Ditjen Pendidikan Tinggi membuka pendaftaran beasiswa S2 dan S3 luar negeri untuk tahun 2009, bagi dosen tetap PTN, dosen DPK dan dosen tetap PTS di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional. Beasiswa untuk program S2 selama 2 tahun, dan program S3 selama 3 tahun.
Pendaftaran dan seleksi Tahap ke-3
Pendaftaran ditutup tanggal 29 April 2009, dan seleksi direncanakan pada bulan Mei 2009.
Bagi peserta yang belum mulai studi, pendaftaran dilakukan secara kolektif melalui perguruan tinggi tempat bekerja.
Setiap pelamar melengkapi :
1. Form A dari Direktorat Ketenagaan Ditjen Pendidikan Tinggi yang telah diisi.
2. Letter of Acceptance dari perguruan tinggi yang terakreditasi;
3. Fotocopy ijasah S1 bagi pelamar jenjang S2 dan S2 bagi pelamar jenjang S3;
4. Bukti kemampuan berbahasa Inggris (TOEFL/IELTS), Jerman, Perancis, Jepang atau bahasa lain, sesuai tempat studi (tidak lebih dari dua tahun terakhir);
5. Khusus untuk pelamar S3 melampirkan rencana riset yang telah disetujui calon pembimbing di luar negeri;
6. Surat pengantar dari pimpinan perguruan tinggi
Bagi mereka yang sedang studi di luar negeri, pendaftaran dilakukan melalui perguruan tinggi tempat bekerja (diberi pengantar oleh pimpinan perguruan tinggi, baik secara individual atau kolektif), dengan kelengkapan:
1. Seperti butir 1, 3 dan 4 tersebut di atas;
2. Laporan kemajuan studi yang diketahui/disahkan oleh pembimbing
3. Rencana penyelesaian studi.
Bagi pelamar beasiswa tahun 2008 yang belum mendapatkan beasiswa, perlu memperbaharui lamaran dengan kelengkapan :
1. Form A dari Direktorat Ketenagaan Ditjen Pendidikan Tinggi yang telah diisi dengan data terbaru
2. Kelengkapan lain sesuai dengan posisi masing-masing (masih belum berangkat atau sedang studi di luar negeri) yang pada tahun 2008 belum atau kurang lengkap. Untuk memudahkan, diharapkan mengirim copy baru dari kelengkapan tersebut.
Berkas pendaftaran dikirim ke alamat :
Direktur Ketenagaan
Gedung D Lantai 5 Komplek Depdiknas
Jalan Jenderal Soedirman Pintu I – Senayan, Jakarta 10270
Telp./Faks : (021) 57946052/53
Untuk info lebih lanjut silakan kunjungi:
http://ditnaga-dikti.org/ditnaga/opendoc.php?page=0&exp=0&id=162&
Sediakan 25 M Abadikan Nama Anda di Salah Satu Gedung Kampus
Apabila nama Anda ingin tercantum menjadi nama salah satu gedung di perguruan tinggi di Indonesia, itu bukanlah hal yang sulit. Anda tinggal menyediakan dana sejumlah 25 miliar.
Baru-baru ini terdengar kabar untuk menamakan sebuah gedung di ITB dihargai dengan jumlah tersebut (25 miliar). Sebuah nominal yang sangat tinggi untuk (hanya) mencantumkan sebuah nama di salah satu gedung Kampus ITB, Jalan Ganesa, Bandung.
Berdasarkan sebuah informasi dari sebuah blog, Gedung di ITB bernama Benny Subianto, awalnya ialah gedung Laboratorium Teknologi (Labtek) V tempat Prodi Informatika di Fakultas FTI berada.
Melalui SK Rektor, empat gedung di tengah kampus (Gedung LabTek V, VI, VII, dan VIII) diberi nama dengan nama para alumni ITB. Gedung LabTek VI (yang merupakan lokasi Prodi Teknik Fisika dan Teknik Kelautan) diberi nama Gedung Teddy P. Rachmad. Sementara Gedung Labtek VII (lokasi Prodi Farmasi) dan Gedung LabTek VIII (tempat Elektro dan Fakultas STEI) diberi nama Gedung Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro.
Selama ini di ITB banyak gedung yang diberi nama dengan sebutan “LabTek”. Mulai dari Gedung LabTek I, II, hingga XII, namun sekarang nama-nama gedung itu telah berubah dengan nama-nama alumni ITB, dengan alasan “agar mudah diingat”. Tentu tidak sembarang alumni namanya bisa diabadikan menjadi nama gedung. Hanya alumni yang menyumbang dana Rp25 miliar yang bisa diabadikan namanya.
Awal pengubahan nama itu, pada bulan Agustus 2008 yang lalu ITB melakukan penggalangan Dana Lestari. Acara itu dihadiri oleh puluhan alumni yang dikenal sebagai pengusaha sukses. Dari malam penggalangan dana itu, berhasil diperoleh komitmen Rp 100 milyar yang disumbang oleh empat orang alumni “kelas kakap”, yaitu Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, Teddy P. Rachmad, dan Benny Subianto. Masing-masing mereka menyumbang 25 miliar.
Suatu kebanggaan ataukah sebuah ironi ?
Konferensi Energi Nasional Mahasiswa Indonesia, Maret 2009
Permasalahan Energi kini menjadi permasalahan global yang tidak habis-habisnya dibicarakan oleh berbagai pihak. Di tengah banyaknya pendapat dalam mencari solusi energi alternatif dan sebagai bentuk kepedulian permasalahan energi di tanah air saat ini, Keluarga Mahasiswa (KM) ITB mengadakan Konferensi Energi Nasional Mahasiswa Indonesia (KENMI).
Acara direncanakan berlangsung pada Maret 2009 ini, akan mempertemukan tiga pihak yakni : pemerintah, swasta, dan mahasiswa. Dan acara ini terbuka bagi mahasiswa dan alumni universitas di seluruh Indonesia.
Dalam program kerjanya, KM ITB menilai bahwa ada 3 aspek di Indonesia yang perlu diperhatikan, yaitu pangan, energi, dan pendidikan. KM ITB mencanangkan Gerakan Kebangkitan Nasional sebagai alur program kerjanya yang bersifat menggali dan menunjukkan potensi-potensi yang ada di Indonesia, salah satunya melalui Konferensi Energi ini.
Acara ini merupakan salah satu dari rangkaian acara KENMI telah berlangsung sejak Januari 2009, yang bertemakan “Inovasi Mahasiswa untuk Kemandirian Energi Indonesia”, berupa pengiriman undangan kepada minimal 1 perguruan tinggi dari setiap propinsi di Indonesia. Setiap peserta wajib mengumpulkan paper yang meliputi:
- Analisis keadaan energi di daerah asal peserta
- Analisis mengenai potensi energi alternatif yang dimiliki daerah asal peserta
- Inovasi gagasan peserta terkait potensi energi alternatif yang dimiliki daerah asalnya
Acara utama KENMI yang berlangsung pada 14 – 15 Maret 2009, akan terdiri dari Seminar “Pengelolaan Energi Nasional Menuju Indonesia Mandiri Energi dan Energi Alternatif sebagai Jawaban atas Permasalahan Energi Nasional”. Paper hasil karya mahasiswa yang telah diseleksi akan dipresentasikan pada Konferensi Mahasiswa di acara berikutnya. Selain acara-acara di atas, masih ada pula Kunjungan ke Desa Mandiri dan Pameran Karya. Melalui rangkaian acara ini, diharapkan terciptanya solusi bersama dalam pengembangan alternaif dalam mewujudkan kemandirian energi Indonesia.
Pejuang Ideologi dan Inspirator dari Kauman
Hanya dengan bersekolah dasar tiga tahun, ia mampu menjadi ulama besar dan tokoh cikal bakal dasar Negara Pancasila.
“Tuan tentu beragama seperti saya, meski kita berlainan agama. Tuan tentu tidak ingin melanggar ajaran agam tuan, seperti halnya kami orang islam yang tidak mau melanggar ajaran agama kami” ujar seorang lelaki kepada seorang kepala intelijen Jepang Kolonel Tsuda.
Kolonel Tsuda tidak mampu menjawab pertanyaan dari lelaki tersebut. Ia adalah Ki Bagus Hadikusumo yang saat itu menjadi pemimpin bagi Muhammadiyah. Dialah orang yang menolak Seikirei (pengkhidmatan kepada Kaisar Tenno Heika dengan cara membungkuk menghadap matahari terbit), karena baginya hal itu adalah perbuatan syirik (menyembah selain kepada Allah SWT).
Ki Bagus Hadikusomo lahir di kampong Kauman Yogyakarta dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi’ul Awal 1038 Hijriyah atau 24 November 1890. Ia adalah putra ketiga dari lima bersaudara R. Kaji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan (pejabat) agama Islam di Kraton Yogyakarta.
Setelah tamat dari Sekolah Ongko Loro (tiga tahun tingkat sekolah dasar), Ki Bagus belajar di pondok pesantren tradisional Wonokromo Yogyakarta, dari situlah dia belajar banyak tentang kitab-kitab fiqh dan tasawuf. Berkat kerajinan dan ketekunan belajar kitab-kitab terkenal, menjadikan ia seorang yang alim, mubaligh, dan pemimpin umat. Ia pun yang berhasil merumuskan pikiran-pikiran pemimpin sebelumnya (KH. Ahmad Dahlan) dalam mengarahkan gerak langkah Muhammadiyah dan menjadikannya pokok pikiran dari Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah.
Bagi Ki Agus, pelembagaan Islam menjadi sangat penting untuk ideologi, politis, dan juga intelektual. Itu pula yang ia upayakan dalam memperkokoh eksistensi hukum Islam di Indonesia, saat ia terlibat menjadi kepanitiaan yang bertugas memperbaiki peradilan agama. Namun pemerintah membatalkannya. Kekecewaannya ia ungkapkan saat menyampaikan pidato di depan sidang BPUPKI.
Meski banyak pertentangan, perjuangan ideologi beliau tetap membuahkan hasil. Sila pertama Pancasia yang hingga kini kita warisi merupakan karya megah tokoh Muhammadiyah yang satu ini.
Ki Bagus wafat saat usia 64 tahun. Pemerintah Indonesia member gelar Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indoesia.
Jurusan Geodesi ITB Terancam Dibubarkan
Rektor ITB Djoko Susanto mengatakan segera memanggil seluruh dosen Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika. Mereka akan ditanya dan dimintai keterangan soal kasus yang menimpa jurusan tersebut dengan terjadinya korban saat mengikuti pelantikan calon anggota Ikatan Mahasiswa Geodesi, Hari minggu(8/2) lalu.
Dwiyanto Wisnunogroho, 22 tahun, tewas saat mengikuti pelantikan di Desa Pagerwangi, Lembang, Kabupaten Bandung. Menurut informasi yang berkembang, ia terlalu kelelahan saat perjalanan dan pingsan, kemudian ia dibawa ke RS St. Boromeus Bandung, namun nyawanya tak tertolong saat tiba di Rumah Sakit.
Seluruh dosen dan mahasiswa yang terkait kasus ini akan segera diperiksa, khususnya mahasiswa angkatan 2005 dan 2006 yang terlibat dalam kepanitiaan. “Kami akan bertindak tegas kepada siapapun yang diluar batas” imbuh Rektor.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Widyo Nugroho Sulasdi menambahkan bahwa selain dimintai keterangan, para mahasiswa yang terlibat akan dilakukan tes psikologi, hal ini dilakukan untuk mengukur tingkat destruktif di kalangan mahasiswanya.
Beliau juga mengatakan bahwa dalam di tingkat perguruan tinggi, rata-rata mahasiswa belum punya karakter yang kuat untuk kepekaan sosial. Meski kegiatan tersebut dilarang kampus, mereka tetap membiarkannya. “Hal ini tidak boleh terjadi lagi kalau tidak jurusan ini akan dibubarkan” ujarnya.
Penyerahan Bantuan Sepeda Anak Sekolah Tidak Mampu Oleh IKA ITS & Konsorsium
IKA ITS bekerja sama dengan Konsorsium Sepeda Untuk Sekolah (ILUNI, Bike to Work, Klub Guru, Centre for the Betterment of Education) akan menyerahkan program bantuan SEPEDA UNTUK SEKOLAH bagi siswa/siswi SD/SMP dari latar belakang keluarga ekonomi lemah di Surabaya, Sidoarjo & Gresik, pada :
Hari/Tanggal : Minggu, 1 Februari 2009.
Waktu : 07.30 – 13.00 WIB
Tempat : Kampus ITS Sukolilo (untuk wilayah Surabaya & Sidoarjo)
Dan
Hari/Tanggal : Minggu, 22 Februari 2009.
Waktu : 08.30 – 13.00 WIB
Tempat : Wisma Semen Gresik, Jl. Veteran, Gresik.
Program bantuan sepeda yang pertama sekali di lakukan di Jawa Timur ini rencananya akan di bagikan kepada 20 sekolah SD/SMP di Surabaya, Sidoarjo dan Gresik.
Untuk acara di kampus ITS, akan di awali dengan bersepeda bersama komunitas Bike To Work (B2W) Surabaya, rencananya Walikota Surabaya, Bp. Bambang DH, sebagai salah satu anggota komunitas B2W Surabaya, akan ikut dalam konvoi sepeda yang finish di kampus ITS Sukolilo ini.
Bagi rekan-rekan alumni ITS yang hobby ber sepeda bisa ikut bergabung konvoi sepeda menuju ITS pada Minggu, 1 Februari 2009, Pukul 06.00. Start akan di mulai dari Taman Bungkul Surabaya, melewati Tunjungan Plaza, Grahadi, PangSud, Kayon, Biliton, Kertajaya dan Finish di Rektorat ITS.
Sesampai di ITS, konvoi akan di sambut dengan “sarapan pagi” khas surabaya, kemudian di lanjutkan dengan acara penyerahan sepeda secara simbolis oleh Ketua Umum PP IKA ITS, Rektor ITS, perwakilan konsorsium SUS, dan Walikota Surabaya kepada perwakilan Kepala Sekolah dan Siswa terpilih.

