Pejuang Ideologi dan Inspirator dari Kauman

February 18, 2009 by admin  
Filed under Tokoh

Hanya dengan bersekolah dasar tiga tahun, ia mampu menjadi ulama besar dan tokoh cikal bakal dasar Negara Pancasila.

“Tuan tentu beragama seperti saya, meski kita berlainan agama. Tuan tentu tidak ingin melanggar ajaran agam tuan, seperti halnya kami orang islam yang tidak mau melanggar ajaran agama kami” ujar seorang lelaki kepada seorang kepala intelijen Jepang Kolonel Tsuda.

Kolonel Tsuda tidak mampu menjawab pertanyaan dari lelaki tersebut.  Ia adalah Ki Bagus Hadikusumo yang saat itu menjadi pemimpin bagi Muhammadiyah. Dialah orang yang menolak Seikirei (pengkhidmatan kepada Kaisar Tenno Heika dengan cara membungkuk menghadap matahari terbit), karena baginya hal itu adalah perbuatan syirik (menyembah selain kepada Allah SWT).

Ki Bagus Hadikusomo lahir di kampong Kauman Yogyakarta dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi’ul Awal 1038 Hijriyah atau 24 November 1890. Ia adalah putra ketiga dari lima bersaudara R. Kaji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan (pejabat) agama Islam di Kraton Yogyakarta.

Setelah tamat dari Sekolah Ongko Loro (tiga tahun tingkat sekolah dasar), Ki Bagus belajar di pondok pesantren tradisional Wonokromo Yogyakarta, dari situlah dia belajar banyak tentang kitab-kitab fiqh dan tasawuf. Berkat kerajinan dan ketekunan belajar kitab-kitab terkenal, menjadikan ia seorang yang alim, mubaligh, dan pemimpin umat. Ia pun yang berhasil merumuskan pikiran-pikiran pemimpin sebelumnya (KH. Ahmad Dahlan) dalam mengarahkan gerak langkah Muhammadiyah dan menjadikannya pokok pikiran dari Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah.

Bagi Ki Agus, pelembagaan Islam menjadi sangat penting untuk ideologi, politis, dan juga intelektual. Itu pula yang ia upayakan dalam memperkokoh eksistensi hukum Islam di Indonesia, saat ia terlibat menjadi kepanitiaan yang bertugas memperbaiki peradilan agama. Namun pemerintah membatalkannya. Kekecewaannya ia ungkapkan saat menyampaikan pidato di depan sidang BPUPKI.

Meski banyak pertentangan, perjuangan ideologi beliau tetap membuahkan hasil. Sila pertama Pancasia yang hingga kini kita warisi merupakan karya megah tokoh Muhammadiyah yang satu ini.

Ki Bagus wafat saat usia 64 tahun. Pemerintah Indonesia member gelar Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indoesia.

Enter Google AdSense Code Here

Comments

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!