Teknologi Proses Produksi Biodiesel UGM

April 13, 2009 by admin  
Filed under Artikel

logo_ugm2Mengantisipasi semakin berkurangnya cadangan minyak bumi, pemerintah Indonesia saat ini telah memulai memproduksi biodiesel sebagai substitusi BBM. Disebutkan dalam blueprint pengelolaan energi nasional 2005-2025, bahwa pemerintah telah menetapkan pemakaian biodiesel sebanyak 2% konsumsi solar pada tahun 2010, 3% pada tahun 2015 dan 5% pada tahun 2025. Selain itu, pemerintah juga menetapkan kebutuhan biodiesel mencapai 720.000 kiloliter pada tahun 2010 dan akan ditingkatkan menjadi 1,5 juta kiloliter pada tahun 2015 dan 4,7 juta kiloliter pada tahun 2025.

Demikian disampaikan Ir. Arief Budiman, MS, D.Eng peneliti dan koordinator Process System Engineering (PSE) Research Group, di UGM, Senin (13/4). Dikatakannya, bahwa proses pembuatan biodiesel selama ini masih dilakukan secara batch. Yaitu, bahan baku minyak direaksikan dengan alkohol dan katalisator basa dalam reaktor tangki berpengaduk selama 90-120 menit. Setelah itu, dibiarkan beberapa jam agar terbentuk dua lapisan kemudian dipisahkan, yang atas berupa biodiesel dan yang bawah berupa campuran gliserol, katalisator & sisa alkohol. “Selanjutnya, biodiesel ini dipisahkan dari gliserol, katalisator dan sisa alkohol. Salah satu kelemahan sistem batch ini, adalah sudah biasa dipakai pada proses pembuatan biodiesel, sehingga hanya cocok untuk kapasitas yang tidak begitu besar,” ujar Arief, yang juga staf pengajar Teknik Kimia, UGM ini.

Oleh karena itu, lanjutnya, PSE Research Group UGM telah berhasil mengembangkan teknologi pembuatan biodiesel secara kontinyu sebagai alternatif pengganti sistem pembuatan biodiesel secara batch. Prinsip teknologi ini adalah menggabungkan reaktor dan unit pemurnian kedalam satu unit operasi yang dikenal dengan reactive distillation. Yaitu, dimana dibagian tengah ditandai dengan zona reaksi dimana reaksi pembentukan biodiesel dari minyak, metanol dan katalisator terjadi. Lantas, pada bagian atas yang merupakan zona recovery metanol akan memungut kembali metanol sisa yang belum bereaksi. Sementara itu, pada bagian bawah menjadi zona pemurnian biodiesel. “Dengan konfigurasi seperti itu, bahan yang keluar dari unit operasi atau kolom sudah terpisah antara biodiesel dengan gliserol. Dengan begitu maka didalam satu unit operasi ini akan terjadi reaksi dan proses pemurnian secara simultan,” lanjutnya.

Ratna Dewi Kusumaningtyas, seorang peneliti yang juga mahasiswa S3 Teknik Kimia UGM menjelaskan bahwa teknologi yang dikembangkan ini, bisa dipakai untuk membuat biodiesel dari berbagai minyak, termasuk minyak jarak dan minyak sawit. Secara prinsip, katanya, reaksi antara minyak, metanol dan katalisator dapat dijalankan didalam kolom reaksi yang berfungsi sebagai reaktor sekaligus pemurnian biodiesel. Sedangkan recovery metanol dijalankan dengan kondenser yang dipasang dibagian atas kolom. “Dari penelitian yang kami lakukan konversi biodiesel dari minyak sawit bisa mencapai 94 persen, sementara itu jika dijalankan dengan sistem batch konversi tidak lebih dari sembilan puluh persen. Hasil biodiesel yang diperoleh dari teknologi proses yang dikembangkan ini relatif lebih jernih dibandingkan dengan hasil biodiesel dari proses batch. Bahkan setelah dianalisis, biodieselnya juga memenuhi spesifikasi yang disyaratkan oleh Standar Nasional Indonesia”, jelas Dewi.

Peneliti lain, Ir. Sutijan, MT, Ph.D menambahkan bahwa kelebihan dari teknologi yang dikembangkan oleh PSE Research Group adalah terjadinya pengurangan capital cost karena berkurangnya reaktor, pipa dan instrumentasinya. Disamping itu, beaya operasi atau beaya per unit massa produk menjadi lebih murah karena konversi yang diperoleh lebih tinggi. Dari sisi unit operasi, karena reaksi dan pemisahan berjalan pada satu alat sehingga lebih kompak dibandingkan dengan proses batch. “Proses produksi biodiesel yang dikembangkan ini berlangsung secara kontinyu, sehingga cocok untuk kapasitas besar, karena bisa lebih menghemat waktu dan tenaga untuk operasi,” tambah Sutijan, yang juga staf pengajar Teknik Kimia, UGM.

Sementara itu, Ir. Rochmadi, SU, Ph.D anggota peneliti PSE Research Group menambahkan bahwa saat ini miniplant pabrik biodiesel secara kontinyu dengan kapasitas 15 liter perhari sudah beroperasi di Teknik Kimia, FT UGM. Miniplant ini diharapkan bisa diaplikasikan pada skala besar, yaitu untuk scale up ke kapsitas menengah atau sekitar 500 – 1000 liter perhari. “Tahapan ini sangat diperlukan sebelum pabrik skala besar berdiri, terutama untuk memastikan konfigurasi pabrik bisa berjalan dengan baik dan sekaligus akan sangat berguna bagi SDM yang akan mengoperasikan pabrik skala besar”, imbuh Rochmadi.

Kepala Jurusan Teknik Kimia UGM, Prof Suryo Purwono, MASc, Ph.D pun berharap keberhasilan tim PSE Research Group dalam mengembangkan teknologi produksi biodiesel secara kontinyu akan segera diikuti dengan tahapan scale up skala menengah agar bisa segera diaplikasikan pada skala industri. Bahwa teknologi ini merupakan wujud inovasi teknologi warga UGM dalam rangka mewujudkan dan memperkuat posisi UGM sebagai world class research university. (Humas UGM)

sumber :  http://www.ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1923

Enter Google AdSense Code Here

Comments

Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!