Pendidikan, Obat Mujarab Atasi Kebodohan dan Kemiskinan
Rasa cinta tanah air dan bangsa yang terangkum dalam semangat patriotisme harus selalu tertanam dalam setiap sanubari rakyat Indonesia. Apalagi, akhir-akhir ini rasa nasionalisme tersebut kian dirasakan tidak sekuat dahulu. Untuk itu perlu digalakan kembali semangat kebangsaan ini. Semangat inilah yang ingin juga ditumbuhkembangkan Unpad demi menciptakan generasi yang sangat mencintai tanah tumpah darahnya.
Hal yang sama juga tersirat jelas dalam orasi Ketua Umum Partai Patriot, KRMH Yapto S. Soerjosoemarno, SH. pada ceramah umum dengan tema “Wawasan Kebangsaan.” Acara yang dilaksanakan pada Selasa (19/05) di Ruang Serba Guna (RSG) Gedung Baru Rektorat Lantai 4 ini juga dihadiri Pembantu Rektor (PR) Bidang Kemahasiswaan, dr. Trias Nugrahadie, Sp.K.N., Mantan PR Bidang Kemahasiswaan, Syarief A. Barmawi, SH., M.Si., Ketua Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Provinsi Jawa Barat (Jabar), H. Tb. Dasep, dan Ketua Satuan Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila Provinsi Jabar, Rezaril Frissandy, serta sejumlah mahasiswa.
Menurut Japto, terdapat tiga tingkatan pengabdian dalam hidup seseorang. Pertama adalah pengabdian kepada Allah S.W.T., kedua, pengabdian kepada negara dan ketiga adalah pengabdian kepada keluarga. Japto mengatakan bahwa keluarga yang ia maksud dapat berarti keluarga biologis, komunitas, maupun organisasi. Ia juga mengungkapkan bahwa pengabdian kepada negara perlu dipupuk untuk menumbuhkan rasa nasionalisme yang kuat dalam diri bangsa Indonesia, khususnya generasi muda. “Nasionalisme tumbuh karena rasa memiliki terhadap tanah air. Rasa memiliki ini akan menimbulkan rasa cinta yang kemudian akan menumbuhkan rasa melindungi apa yang dimiliki walau apapun yang terjadi,” ungkap Yapto.
Dijelaskan Yapto bahwa wawasan kebangsaan ini termaktub dalam sumpah pemuda yang dikumandangkan pada 1928. “Sumpah ini menunjukkan betapa besar dan kuatnya rasa persatuan bangsa Indonesia saat itu. Tapi sekarang bangsa kita terpecah belah karena keinginan dan tujuan yang berbeda-beda. Jika dulu bangsa Indonesia bersatu dan berperang melawan penjajah dalam arti secara fisik. Kini bangsa Indonesia dijajah oleh kapitalis dan itu yang harus diperangi!” tegas Yapto
Ia menilai bahwa selama rasa kebangsaan tersebut tidak tertanam kuat di benak rakyat Indonesia, maka keterpurukan akan terus melanda negara ini. Pria yang juga teman dekat Syarief A. Barmawi ini juga mengingatkan peserta agar selalu waspada terhadap kebodohan dan kemiskinan.
Menurutnya, kedua hal tersebut merupakan musuh nyata bangsa ini karena mampu memicu perpecahan bangsa. Hal ini sangat masuk akal karena demi memenuhi kebutuhan perut, seseorang dapat saja menjadi gelap mata dengan membodohi orang lain, bahkan bisa jadi membodohi keluarganya sendiri.
Yapto mengungkapkan bahwa obat paling mujarab untuk keluar dari kebodohan dan kemiskinan itu adalah dengan pendidikan. “Pendidikan adalah sumber tegaknya suatu negara,” sambungnya. (rth)*
Sumber : www.unpad.ac.id/berita/pendidikan-obat-mujarab-atasi-kebodohan-dan-kemiskinan/




Comments
Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!