Ridho Akbar Yogandirto, MPi., Psi, “Berani dan Mencoba”

September 9, 2009 by admin  
Filed under Suara Alumni

Ridho Akbar Yogandirto, MPi., Psi, Lulusan terbaik Program Magister Profesi Psikologi Industri dan Organisasi  2005 Universitas Gunadarma ini  saat ini menjabat sebagai supervisor di PT Elnusa Petrofin, sebuah perusahaan migas di Departemen Human Resourches and Development & General Affair. Sosoknya perlu kita teladani, prinsipnya yang mengatakan “Setiap orang harus punya keberanian untuk mencoba,” bisa jadi pemacu kita untuk terus maju dan berusaha maksimal.

Ridho merupakan tipe yang selalu merencanakan hidup dan membuat target dalam hidupnya. Ketertarikannya di bidang psikologi karena menurutnya ilmu Psikologi, bisa membantu kita mempelajari karakter manusia, permasalahan dan membantu solusinya.

Di tahun 2005, setelah menyelesaikan kuliahnya di Program Strata Satu Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma. Ridho langsung bekerja di sebuah perusahaan outsourching dengan gaji yang cukup lumayan. Angan-angan dan rencanya untuk melanjutkan studi ke jenjang Profesi Psikologi merupakan bagian dari tekad kuatnya. Entah kapan? setelah menikah atau apakah jika sudah tua nanti yang pasti ia ingin melanjutkan kuliah. Nasib baik menghampiri, sebuah tawaran beasiswa untuk melanjutkan studinya dan ia begitu terharu Ridho berpendapat, setiap orang bisa punya cita cita dan pasti bisa dan saat kesempatan itu datang harus cepat diambil dan tak usah berpikir lama. Ia kemudian memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, dan ingin fokus pada kuliahnya.

Keputusan untuk memilih kuliah dan meninggalkan pekerjaan yang saat itu sudah cukup menjanjikan ternyata bukan keputusan yang salah. Kesungguhannya menekuni perkuliahan dan selalu memberikan yang terbaik untuk perkuliahannya membuahkan hasil, begitu lulus dari Magister Profesi Psikologi ia langsung ditawari megikuti proyek seleksi Elnusa Petrofin, sebuah perusahaan migas. Hingga setelah beberapa bulan Ridho disewa perusahaan untuk membantu pelaksanaan proses seleksi karyawan. Ia ditawari bergabung secara resmi di Elnusa sebagai supervisor,tugasnya melakukan perekrutan, training dan mengembangkan organisasi perusahaan. Selain bekerja di kantor, Ridho juga masih mengerjakan proyek sambilan psikotes yang dikerjakannya di rumah. Berkat kerja kerasnya, proyek yang awalnya ia cari sendiri. Sampai kemudian tersebar dari mulut ke mulut, dengan banyak klien yang mulai bergabung.

Menurutnya ketika kita melakukan sesuatu, keraguan dari orang lain, itu adalah hal yang biasa.  kegagalan juga biasa terjadi, terpenting adalah berani mencoba. Untuk mendapat pengalaman, kita harus berani mencoba. Kebanggaannya kini adalah bisa membantu orang lain. Kini setelah lulus dari Program Magister Profesi Psikologi Ridho tetep berencana untuk meneruskan sekolah lagi. Namun Keinginannya lebih ke bidang managemen, kerena Ia mempunyai harapan bisa memiliki biro konsultasi psikologi sendiri suatu saat nanti.

Memihak Pasar Tradisional ?

May 22, 2009 by admin  
Filed under Suara Alumni

Pasar tradisional di negeri ini tidak terlepas dari sejarah dan budaya nenek moyang kita. Namun, seiring perubahan gaya hidup konsumen, pasar tradisional semakin termarginalkan. Tumbuhlah pasar modern, berupa mal, supermarket, bahkan hypermarket, yang menjadi lahan subur pemilik modal asing berebut keuntungan. Ini bermula dari Keppres No 96/2000 tentang usaha tertutup dan terbuka bagi penanaman modal asing (PMA). Perdagangan eceran (ritel) terbuka bagi asing. Hypermarket berdiri di berbagai kota. Bahkan, 2009 peritel asing, Wallmart, Casino, Tesco, Central Thailand, tertarik masuk ke Indonesia. Peritel asing yang sudah lama mencengkeramkan kukunya dengan mengakuisisi ritel nasional. Akibatnya, hypermarket tumbuh dari 83 tahun 2005 menjadi 121 pada 2007, minimarket dari 6.465 tahun 2005 menjadi 8.889 tahun 2007. Menurut  pengamat ritel Hidayat (12/2), hal ini didukung diterapkannya bunga rendah dan perputaran yang tinggi, sehingga Carrefour merajai pasar. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo),  Benjamin Mailool menyatakan, Carrefour menjalankan strategi akusisi dan internal growth. Ini didukung besarnya penduduk Indonesia. Konsumen ibarat raja. Gaya hidupnya terus didorong berubah dan dikendalikan pengelola pasar modern. Sejumlah kelebihan ditawarkan pasar modern. Harga lebih murah, diskon, hadiah, jaminan kualitas, tampilan menarik, dan kemudahan akses informasi produk. Ditunjang fasilitas lain sebagai alternatif hiburan bagi pembeli, seperti tempat bermain, tempat jajan, maka akan menarik konsumen. Di sisi lain, ketidaknyamanan, seperti lorong penuh dagangan, bau pengap, tempat kotor, bahkan harga lebih tinggi, sering dijumpai di pasar tradisional. Inilah sebagian pemicu ditinggalkannya pasar tradisional. Lantas, apa yang harus dibenahi agar pasar tradisional dapat bersaing? Apa peran pemerintah?

50,4 Juta Penduduk Bergantung Pasar Tradisional
Bagaimanapun kondisinya, ada sejumlah alasan konsumen tetap memilih pasar tradisional. Di antaranya alasan  budaya, sejarah, mudah dijangkau, harga bisa ditawar atau diutang lebih dahulu, rasa kekeluargaan yang cukup tinggi, tidak seboros berbelanja di pasar modern, bahkan menawarkan peluang usaha dan pekerjaan. Inilah sisi positif yang tidak lepas dari potensi sosial, budaya, dan ekonomi yang telah mengakar. Meskipun pasar tradisional pada 2002-2008 turun 11,7%, sedang pasar modern tumbuh 31,4%, saat ini pasar tradisional masih menjadi pilihan rakyat di tengah lesunya perekonomian. Menurut Departemen Perdagangan, ada 13.450 pasar tradisional di Indonesia yang menghidupi sekitar 12,6 juta pedagang (Kontan, 17/03/09). Jika setiap pedagang menanggung tiga orang maka sekitar 50,4 juta penduduk bergantung pasar tradisional. Belum lagi konsumen di pasar ini. Hal ini menyangkut hajat hidup orang banyak. Hingga 2007 saja, Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya masih mengelola 151 pasar di DKI Jakarta beraset lebih dari Rp 3 triliun. Nilai perdagangan di seluruh pasar yang dikelola PD Pasar Jaya lebih dari Rp 150 triliun per tahun dari tempat usaha mencapai 98.507 unit. Setiap hari dikunjungi lebih dari 2 juta atau 20% penduduk Jakarta. Apakah potensi ini dibiarkan tergilas arus perubahan? Pemilik kebijakan harus jeli merancang masa depan pasar tradisional. Besarnya PHK akibat krisis ekonomi saat ini, perlu dicarikan solusi alternatif. Pemberdayaan pasar tradisional bisa jadi membuka kesempatan kerja informal bagi sebagian korban PHK. Pasar tradisional juga menjadi tempat distribusi produk lokal hasil pertanian rakyat kecil. Ini akan menjadi penyelamat petani dan pedagang dari dominasi  pertanian dan pasar modern.

Cermati Peritel Multinasional
Walaupun menuai pro dan kontra, pemerintah telah mengeluarkan dua peraturan, yaitu Perpres 112/2007 dan Permendag 53/2008, untuk mengatasi polemik ini. Pada 2009, pemerintah juga menyiapkan sekitar Rp 490 miliar untuk revitalisasi pasar tradisional agar dapat bersaing dengan pasar modern. Revitalisasi bukan sekadar renovasi fisik. Seperti Pasar Berseri (bersih, sehat, ramah lingkungan, dan indah) yang diluncurkan di Jakarta 16-18 Juni 2008. Kemampuan manajemen  sumber daya manusia (SDM) pelaku pasar, layanan konsumen, dan rantai distribusi juga harus diperhatikan. Panjangnya rantai distribusi, terpusatnya komoditas tertentu pada sekelompok orang, dan pungutan yang tidak perlu, layak dipangkas untuk mengefisienkan pasar tradisional. Hal ini akan meningkatkan kepuasan konsumen. Program pemerintah mengalokasikan Rp 100 miliar untuk perbaikan dan pengembangan pasar tradisional dan lokasi pedagang kaki lima (PKL) dengan segala kriterianya dinilai tepat. Namun, dibanding porsi pembayaran cicilan pokok dan bunga utang yang mencapai Rp 162 triliun dalam APBN 2009, tentu jauh dari cukup. Pemerintah perlu lebih fleksibel dalam penyediaan dana mengingat pasar tradisional tempat bergantung rakyat.
Besarnya cengkeraman perusahaan ritel multinasional perlu dicermati. Dengan pilar: capital power, trend setter, consumer traffic maker, cheapest price pasar modern mempunyai market power yang cukup besar. Penjualan 10 peritel besar di dunia mencapai US$ 1.091 miliar tahun 2008. Lima di antara 10 ritel besar itu meliputi Carrefour, WallMart, Metro Group, Tesco, dan Seven & 1 (Kompas, 1/9/08). Mereka sering mempengaruhi kebijakan pemerintah, terutama pemda, untuk memuluskan nafsu keserakahannya. Ini tentu sangat tidak sebanding dengan power yang dimiliki pelaku pasar tradisional. Jika pemerintah tidak memberikan regulasi yang jelas dan tegas maka sangat mungkin potensi sosial, budaya, dan ekonomi pasar tradisional akan tergilas. [cip/http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/memihak-pasar-tradisional/]

Sumber :   prasetya.brawijaya.ac.id/mei09.html#rakerpim

Aspek Integrasi memang Penting

May 20, 2009 by admin  
Filed under Suara Alumni

Sebagai perguruan tinggi terbaik di negeri ini, UI telah melahirkan tenaga ahli dengan kuantitas tak terhitung di segala bidang. Alumni UI umumnya terkenal sebagai pakar di bidangnya. Dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, UI telah melahirkan banyak insinyur dan banyak lagi yang hasil penelitiannya tidak saja diakui oleh kalangan dalam negeri, namun juga oleh kalangan ilmuwan internasional. Dalam bidang politik, alumni UI punya peran sentral. Bahkan tidak jarang sebagai pembuat kebijakan.

Kami sadar, aspek integrasi memegang peran penting dalam langkah menuju cita-cita menjadi elite kampus riset dunia. Inilah sebabnya juga ketika pada 2007, UI mendirikan direktorat hubungan alumni. Fungsinya adalah menjaga relasi alumni dengan kampus. Pada 2008, UI menyelenggarakan event reuni besar “Homecoming Day” yang sukses menjaring alumni dari generasi 1950an hingga 2000an. Alhasil hubungan holistic dengan alumni dapat terbangun, dimana salah satu tujuannya adalah menggalang potensi-potensi dari hubungan intra kampus terbaik negeri ini dan sumber daya terbaik di bidangnya yang asalnya tak lain tak bukan dari alumni itu sendiri.

Aktif Organisasi ,Raih Nilai Mengagumkan

April 2, 2009 by admin  
Filed under Suara Alumni


Kampus B – Warta Unair.
Siapa bilang bila seorang mahasiswa sibuk di bidang organisasi, IPK-nya pasti kurang memuaskan. Setidaknya hal ini dibantah oleh Agnes Dewi Pramitasari, mahasiswi Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi yang diwisuda 24 Agustus 2008 kemarin. Agnes berhasil lulus dengan IPK 3,84.

Mita demikian dirinya biasa dipanggil oleh rekan-rekannya mengaku tidak mempunyai kiat khusus sehingga bisa memperoleh nilai yang cukup bagus. Padahal dirinya juga terlibat dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMA Akuntansi) yang mempunyai kegiatan yang cukup padat.
“Saya gabung ke HIMA karena memang ingin membentuk karakter pribadi, karena dalam dunia kerja yang dibutuhkan bukan hanya nilai yang bagus namun juga personality yang harus bagus dan itu hanya bisa dibentuk melalui organisasi,” katanya ketika ditemui di FE kemarin.
Mita mengaku dirinya adalah sosok yang easy going dan bukan sosok mahasiswi pembelajar atau kutu buku. Barulah ketika ada tugas yang diberikan dosen, saat itulah digunakannya untuk belajar. Namun agar dirinya tidak keteteran, dalam berbagaii mata kuliah, biasanya seminggu sebelum ujian ia belajar secara intensif dan tidak lagi sibuk di organisasi.
“Model belajar semacam ini sudah saya lakukan sejak SMA, apalagi sewaktu SMA saya jauh dari orang tua karena berada di Jogya, sementara orang tua ada di Surabaya,” ujarnya.

Apa saja yang dipelajari selama seminggu itu? Menurut dia, biasanya dia hanya belajar latihan soal ringan. Namun sebelum memulai latihan soal, dirinya memahami dulu konsep dari masing-masing bab yang akan dipelajari itu. Dengan memahami konsepnya maka belajar yang dijalaninya lebih ringan.
“Jangan belajar soal yang berat, justru nantinya malah lupa, yang penting konsepnya saja,” katanya.

Mita mengakui memang selama ini dirinya mempunyai target harus mendapatkan IP 3,5 karena dengan IPK minimal 3,5 maka akan mudah mencari kerja. Ini mengingat kompetisi di dunia kerja juga semakin ketat, sehingga IPK 3,5 menurutnya adalah sebuah keharusan.

Kini, usai wisuda, dirinya sudah mendapat tawaran kerja di Ernst and Young, sebuah perusahaan audit terkenal di Jakarta. Dan kesempatan ini tidak akan disia-siakannya karena memang bidang akuntansi adalah bidang yang sangat disukainya.
“Saya hanya ingin menyampaikan, kalau kelas kuliah di Akuntansi sebaiknya jangan terlalu besar. Bayangkan satu kelas bisa menampung 100 mahasiswa dan minimal sekitar 80 orang. Ini tidak efektif,” ujarnya menutup perbincangan. (rum)

Sunber: http://www.unair.ac.id/wisudawan.unair.php?id=16

UGM Desak Pemerintah Tidak Menunda pemilu

April 1, 2009 by admin  
Filed under Suara Alumni

Universitas Gadjah Mada (UGM) mendesak pemerintah untuk tidak menunda pemilu legislatif 9 April mendatang, baik di sebagian maupun seluruh wilayah Indonesia. Menurut Rektor UGM, Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., penundaan akan berdampak buruk bagi pelaksanaan tahapan pemilu yang telah lama dirancang.

Didampingi oleh Wakil Rektor Senior Bidang Administrasi, Keuangan, dan Sumber Daya Manusia (Prof. Ainun Na’im, Ph.D.), Wakil Rektor Bidang Alumni dan Pengembangan Usaha (Prof. Ir. Atyanto Dharoko, M.Phil., Ph.D.), dan Kepala Bidang Humas dan Keprotokolan UGM (Drs. Suryo Baskoro, M.S.), Rektor menegaskan penundaan pemilu tidak akan bagus bagi pembelajaran generasi muda karena pemerintah dapat dianggap tidak konsisten dan tidak cakap menyukseskan pemilu. Di samping rawan dengan gangguan ketertiban dan keamanan, ketika pemilu ditunda juga akan menimbulkan pemborosan anggaran.

Masyarakat diharapkan berperan aktif untuk memilih caleg atau parpol yang memang benar-benar dapat dipercaya untuk menyampaikan amanat sesuai dengan hati nuraninya.

Sebagaimana sudah dilontarkan banyak tokoh dan pengamat, UGM menilai golput juga tidak akan menyelesaikan masalah. Untuk itu, masyarakat setidaknya memilih calon atau parpol yang bisa dipercaya mengemban amanat sesuai hati nurani sehingga ke depan bisa memperjuangkan aspirasi masyarakat lebih baik lagi.

Enam butir pesan dibacakan oleh Rektor dalam kesempatan tersebut. Pertama, UGM menyerukan kepada seluruh anak bangsa untuk membangun solidaritas bersama, bersinergi menyelesaikan berbagai persoalan bangsa dengan aktualisasi positif Pancasila dan UUD 1945 serta aktualisasi makna Bhinneka Tunggal Ika.

Kedua, UGM meminta agar pemerintah dan DPR tepat waktu menyelesaikan rancangan perundang-undangan yang diperlukan untuk solusi nyata urusan jangka sangat mendesak dan menunda pengesahan RUU yang masih menimbulkan kontroversi untuk mendapatkan konsultasi publik seluas-luasnya pada tahun 2010.

Ketiga, UGM mengimbau segenap komponen bangsa menyikapi pemilu legislatif dan pemilihan presiden dengan mengendalikan ambisi dan emosi, menjernihkan nurani dalam perjuangan bermartabat, berkeadaban, berorientasi kemanfaatan dan kebahagiaan manusia.

Keempat, UGM mengharapkan sinergitas para pemimpin di semua bidang dan lapisan untuk bersikap profesional membentuk jalinan optimal mengokohkan kedaulatan ideologi bangsa untuk menciptakan pengetahuan bersama yang menjamin solusi persoalan dengan dasar Pancasila.

Kelima, UGM juga berharap para pihak pembuat keputusan tidak menunda pemilu, baik di sebagian maupun seluruh wilayah Indonesia, sebagai langkah terpuji.

Keenam, UGM mengajak warganya dan warga masyarakat untuk mendukung aktualisasi Maklumat Akademik 9 Januari lalu, menggunakan hak pilih yang dilandasi nurani, jernih, jujur, tertib, damai, dan bersih dari noda-noda perilaku tidak terpuji serta melaksanakan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(Humas UGM/Gusti Grehenson)

Hubungan Antar Alumni UGM Semakin Renggang

January 29, 2009 by admin  
Filed under Suara Alumni

Pergeseran paradigma kerja dari birokrasi ke wirausaha menyebabkan hubungan ikatan kekeluargaan antar alumni UGM di daerah semakin renggang. Kondisi ini menyebabkan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) pun tidak lagi menjadi magnet yang cukup kuat untuk menarik perhatian alumni di berbagi daerah dalam menguatkan kembali ikatan tersebut.

Menurut Toni, bila sebelumnya KAGAMA memiliki reputasi yang cukup luar biasa di mata alumni di berbagai daerah karena dulunya sebagian alumni UGM banyak bekerja di birokrasi. Sebaliknya, kenyataan yang terjadi saat ini, banyak alumni UGM sudah banyak berkecimpung dalam wirausaha.

Mengatasi kondisi ini, Toni mengusulkan agar pertemuan kagama di daerah lebih diarahkan dalam sektor usaha untuk menggairahkan kembali hubungan ikatan antar alumni UGM dan juga menambah peluang kerja alumni sendiri.

“Makanya, kerjasama ini dalam rangka mencari format usaha bersama bagi alumni di berbagai bidang usahanya dan membuka peluang usaha baru bagi mereka sendiri,” jelasnya.

Toni megatakan, pihaknya akan melakukan roadshow ke 24 daerah yang memiliki basis alumni UGM guna mensosialisasikan program tersebut sekaligus mengajak alumni untuk berpartisipasi mengembangakan potensi daerahnya.

Eni Kusuma: Belajar adalah Hak Saya!!!

December 21, 2008 by admin  
Filed under Suara Alumni

Profesi sebagai pembantu rumah tangga atau TKW di negeri orang, sering dipandang sebelah mata. Sekalipun, mereka adalah penyumbang devisa negara yang tidak bisa disepelekan jumlahnya. Mereka punya peran untuk keluarga maupun bangsanya, walau penghargaan maupun perlindungan terhadap mereka sangatlah minim. Tak heran jika yang sering kita dengar adalah kisah-kisah pilu tentang tidak berdayanya para TKW ini.

Namun, Eni Kusuma, membalikkan semua pandangan tersebut. Enam tahun menjalani profesi sebagai pembantu rumah tangga di Hong Kong, Eni berhasil pulang dengan membawa sesuatu. Bukan harta yang berlimpah, tetapi sebuah hasil proses pembelajaran yang sangat menakjubkan. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai pembantu rumah tangga, ia berhasil mengasah bakat menulisnya dan bergaul dengan komunitas yang lebih luas melalui internet.

Lulusan sebuah SMA di Banyuwangi, Jawa Timur, ini pun aktif di sejumlah mailing list penulisan. Di sana keterampilannya berkembang pesat dan ia mulai bergaul dengan sejumlah penulis sukses. Artikel-artikelnya pun tersebar dan semakin diapresiasi oleh khalayak. Sejumlah artikel motivasinya juga berhasil dimuat di situs motivasi dan pengembangan diri terpopuler, Pembelajar.com. Dari situlah akhirnya pada April ini Eni berhasil meluncurkan sebuah buku motivasi berjudul Anda Luar Biasa!!! (Fivestar, 2007).

Di Indonesia atau bahkan dunia, mungkin Anda Luar Biasa!!! adalah buku motivasi pertama yang ditulis oleh seorang pembantu rumah tangga. Dan, tak tanggung-tanggung, buku ini juga dikomentari oleh tak kurang dari 27 penulis, motivator, tokoh, atau aktivis yang punya nama. Mungkin, semua ini merupakan bentuk apresiasi atas semangat dan kemauan belajar penulisnya yang benar-benar menyentuh hati.

Eni yang kini berusia 30 tahun, terus belajar mengasah kemampuan menulisnya. Ia juga mulai membagikan semangatnya melalui forum-forum seminar, diskusi, serta talk show di radio-radio. Sasaran yang sedang dia bidik adalah seminar di berbagai kampus untuk menyemangati para mahasiswa atau generasi muda umumnya. Berikut adalah wawancara Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Eni Kusuma melalui email akhir Maret 2007 lalu.

Bagaimana perasaan Anda setelah buku pertama Anda terbit?
Berbunga-bunga. Ada mawar, anggrek, tulip, dan enceng gondok…he he he.

Bagaimana ceritanya sampai akhirnya Anda bisa menulis sebuah buku motivasi?
Awal cerita dari sebuah dream saya yang ingin diakui secara intelektual. Mulanya masih kabur. Sama halnya dengan seorang gadis yang bermimpi tentang pangeran pujaannya. Masih kabur. Namun, setelah bertemu dengan pria yang mendekatinya secara nyata, lama-lama bayangan itu semakin jelas. Karena dream saya masih kabur, awalnya saya belajar membuat naskah novel, cerpen, dan puisi. Ketika saya posting di milis kepenulisan yang saya ikuti bernama Kossta—milis untuk para TKW di Hongkong yang suka nulis—karya-karya saya banyak yang mengomentari. Setelah saya amati, saya rasa menjadi komentator itu lebih cerdas dan elegan. Maka saya BELEJAR “berkarier” di jalur ini. Banyak yang skeptis: “Who’s talking? Emangnya Eni itu siapa?” Namun, seorang guru dan senior saya nekat mengirimi saya buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller, karya Edy Zaqeus. Mungkin, biar “kegilaan” saya semakin terasah.
Dari situ saya mengenal Pembelajar.com. “Korban” komentar saya yang pertama adalah artikel Jennie S. Bev, si penulis buku Rahasia Sukses Terbesar. Jennie adalah penulis wanita yang sukses di negeri Paman Sam. Dia terkenal karena menulis. Kenapa saya komentari dia? Karena saya ingin “dilihat”. Inilah awal saya membuat artikel-artikel “motivasi”—yang istilahnya saja baru saya dengar setelah bergaul dengan komunitas Pembelajar.com.