Sjamsoe’oed Sadjad, Recipient of Bakrie Award for Technology
August 24, 2010 by LintasAlumni
Filed under Headline, Tokoh
Guru Besar Emeritus pada Fakultas Pertanian (Faperta) IPB, Sjamsoe’oed Sadjad, dianugerahi Penghargaan Achmad Bakrie 2010 bidang teknologi. Sjamsoe’oed terpilih bersama lima pemenang lain dengan kategori bidang kesusastraan, Read more
Soetanto, Mendidik dan Menggali Kepintaran
December 8, 2009 by LintasAlumni
Filed under Tokoh
Nama lengkapnya Ken Kawan Soetanto, Ia telah meraih gelar profesor dan empat doktor sekaligus dari empat universitas berbeda di Jepang. Apa yang telah di raihnya ini tak lepas dari pengalaman yang penuh liku.
Keempat gelar doktor dia peroleh di bidang aplikasi rekayasa elektronika dari Tokyo Institute of Technology (1985), ilmu kedokteran dari Universitas Tohoku (1988), ilmu farmasi dari Science University of Tokyo (2000), dan ilmu pendidikan dari Universitas Waseda (2003).
Soetanto memulai karirnya, dengan dukungan dana beasiswa dari Pemerintah Jepang dan semangat belajar tinggi. Pengalaman Soetanto pertama kali mengajar di Jepang adalah di Toin University of Yokohama pada 1993. Di universitas itu, sekitar 80 persen mahasiswa tidak memiliki motivasi belajar yang baik. ”Toin University of Yokohama itu universitas ’kelas bebek’, bukan universitas unggulan, sehingga motivasi belajar para mahasiswanya rendah” katanya.
Metode Soetanto mengajar di Jepang sempat dikenal sebagai ”metode Soetanto” atau ”efek Soetanto”. Suatu pengajaran yang menyentuh hati setiap peserta didik dan mengumandangkan motivasi serta pemahaman tujuan yang ingin diraih. Soetanto dalam menjalankan proses pendidikan di Jepang tidak hanya berteori. Namun, ia berusaha benar-benar menggali kepintaran setiap peserta didik.
Soetanto tidak hanya merambah Jepang. Di Amerika Serikat, pada tahun 1988-1993, ia menjadi associate professor di Universitas Drexel dan Universitas Thomas Jefferson, Philadelphia. Dan pada tahun 2005 ia menjadi guru besar di Venice International University, Italia.
Berbagai penghargaan yang pernah diterima Soetanto, antara lain Outstanding Achievement Awards in Medicine and Academia dari Pan Asian Association of Greater Philadelphia, AS, tahun 1990. Ia juga meraih predikat profesor riset terbaik dan profesor mengajar terbaik selama tujuh tahun berturut-turut (1994-2000) di Toin University of Yokohama.
Selain itu, Soetanto termasuk kategori satu di antara tiga pemohon paten paling terkemuka di Jepang. Sejak 2003 dia menjadi guru besar di Universitas Waseda dan menjabat Kepala Divisi Urusan Internasional. Dia juga menjadi orang pertama dari luar Jepang dalam 125 tahun terakhir ini yang diajukan menduduki jabatan setingkat kepala divisi di Universitas Waseda. Sampai kini lebih dari 1.100 karya ilmiah Soetanto telah dipublikasikan.
Sumber: Kompas.com
Teddy Menas, Fotografer Profesional
October 14, 2009 by LintasAlumni
Filed under Tokoh
Tokoh yang satu ini adalah lulusan Sarjana Ekonomi kampus Binus yang juga adalah lulusan Darwis Triadi School of Photography. Ia mendedikasikan dirinya menjadi seorang fotografer profesional sekaligus mampu mendisain hasil-hasil fotonya menjadi karya foto yang memiliki nilai seni yang tinggi.
Keahliannya di dunia photografy sudah tak di ragukan lagi, saat ini ia bekerja menjadi fotografer yang cukup handal, yang dicari banyak orang terutama pasangan yang hendak dibidik untuk foto-foto pre-wed dan sekaligus foto hari pernikahan yang berbahagia.
Ia juga pernah terpilih sebagai fotografer khusus beberapa konser musik besar di negeri ini dan ia juga pernah meraih penghargaan di bidang fotografi.
Ia sekarang menjabat sebagai Foto Editor di salah satu media yang cukup ternama dan tentunya di samping kesibukanya ia masih menyempatkan diri untuk memberikan training fotografi kepada mereka yang ingin mendalami bidang ini.
Dr. Lamrenta Simanjuntak
October 7, 2009 by LintasAlumni
Filed under Tokoh
Alumni Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Indonesia, yang merupakan salah satu dokter teladan untuk daerah Lampung, pada saat PTT di daerah tersebut.
Ia juga mendapat rekomendasi dari daerah lampung tersebut untuk dapat mengambil specialis anak di Universitas Indonesia. Ia sudah bekerja dibeberapa rumah sakit, dari rumah sakit pendidikan sampai bertaraf internasional. Ia juga telah mengikuti berbagai pelatihan, dan saat ini Ia juga memiliki praktek pribadi di daerah Meruya Selatan, Jakarta Barat.
Selain sebagai dokter, Ia juga bergerak dalam bidang usaha rumah lulur tradisional “Wanita Indonesia” dengan visi bahwa kulit seorang wanita sangatlah penting dan itu perlu dipelihara senantiasa, sebab kecantikan seorang wanita terlihat dari kulit tubuh yang bersih dan sehat.
Jejak Sang Arsitek Bandung : C.P Wolff Schoemaker
C.P. Wolff Schoemaker telah meraih nama besar dalam pembangunan kota Bandung. Arsitek Belanda dan guru besar arsitektur Technische Hogeschool Bandoeng (sekarang ITB-red) ini memiliki peran besar dalam perancangan masterplan kota Bandung kuno. Sejumlah bangunan tercatat sebagai karyanya, diantaranya Villa Isola, Gedung Merdeka dan Villa Merah ITB. Napak tilas karya-karya Schoemaker di Bandung disajikan oleh Kumiko HOMMA, mahasiswi program magister Arsitektur dari Jepang, bekerjasama dengan sejumlah mahasiswa arsitektur ITB dalam seminar Jejak Karya C.P. Wolff Schoemaker di Bandung.
Mungkin hanya sedikit orang awam yang mengenal nama Ir.Charles Prosper Wolff Schoemaker. Pria kelahiran Banyubiru, 1882 ini memulai karir di militer sebagai insinyur. Schoemaker kemudian bergabung dengan Algemeen Ingenieur Architectenbureau, dan bekerja di Bandung. Karyanya antara lain bangunan-bangunan yang menjadi ikon kota Bandung, seperti Gedung Asia Afrika, Villa Isola, Aula Barat – Timur ITB, Gedung PLN, Gereja Kathedral di Jln. Merdeka, Gereja Bethel di Jln. Wastukencana, Masjid Cipaganti, Bioskop Majestic, Villa Merah, dan Hotel Preanger. Tahun 1922, Schoemaker diangkat sebagai profesor Technische Hogeschool Bandoeng (disingkat TH, sekarang menjadi ITB-red) dengan salah satu mahasiswanya yaitu Ir. Soekarno. Selama hidupnya, beliau banyak melakukan penelitian ilmiah terhadap karya-karya arsitektur vernakular di Jawa. Beliau juga pernah menimba ilmu arsitektur di Amerika Serikat dari Frank Lyoid Wright, salah satu arsitek ternama di dunia. Schoemaker meninggal pada 1949 dan dimakamkan di Ereveld Pandu, Bandung.
Dalam rancangannya, Schoemaker berupaya memadukan unsur budaya timur dan barat dalam desainnya. Budaya timur sangat terlihat dari bentuk atap yang dominan seperti rumah-rumah tradisional Indonesia dengan kemiringan yang tinggi, serta material pada atap (sirap) dan dinding (batu bata), pada bangunan villa mrah di Jl. Tamansari. Bangunan ini sekarang digunakan sebagai kantor Satuan Kekayaan dan Dana serta Ikatan Alumni ITB.
Villa IsolaVilla Isola dirancang Schoemaker memiliki orientasi pada Gunung Tangkuban Perahu. Schoemaker menerapkan filsafat landscape tradisional Jawa, yaitu bangunan dan lingkungan memiliki orientasi kosmis ke arah sesuatu yang dianggap sakral. Gunung tersebut merupakan elemen sakral dalam kepercayaan masyarakat Sunda. Elemen-elemen kepercayaan seperti inilah yang coba diadaptasi Schoemaker ke dalam desainnya. Konsep tradisional lain yaitu ornamen Batara Kala pada fasade bangunan Landmark di Jalan Braga. Sementara deretan pertokoan bergaya art deco yang menjadi landmark jalan Braga merupakan daya tarik bagi Parijs van Java.
Kumiko HOMMA, mahasiswi program magister berkebangsaan Jepang, menampilkan hasil penelitiannya mengenai karya-karya Schoemaker. Penelitian tersebut turut dibantu oleh Dr. Eng. Bambang Setia Budi, ST.MT., dosen sejarah arsitektur program studi arsitektur ITB. Dalam seminar yang diselenggarakan di galeri Labtek IXB, Jumat (11/09/09), Kumiko menampilkan hasil analisisnya pada berbagai karya Schoemaker di Bandung. Schoemaker memiliki karakteristik art deco, streamline, inconsistent, dan concoct.
Selain pembahasan karya Schoemaker, dibahas pula mengenai pembentukan arsitektur satu arah (lisensia arsitektura) yang disampaikan oleh Yuswadi Saliya, pendiri Ikatan Arsitektur Indonesia. Yuswandi mengungkapkan beberapa faktor yang menjadi latar belakang, diantaranya interaksi antara arsitektur dengan habitat dan komunitasnya. Yuswandi juga mengatakan bahwa bidang preservasi karya arsitektural saat ini menghadapi kamar mati. Maksudnya, setiap elemen arsitektur hanya dilihat seperti apa yang terlihat. Padahal, elemen-elemen tersebut sebenarnya memiliki banyak potensi. Bangunan tua hanya dilihat seperti bangunan yang telah tua dan perlu diperbaiki; padahal bangunan tersebut memiliki potensi dimanfaatkan untuk berbagai fungsi dan pariwisata. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa Bandung yang kaya dengan bangunan-bangunan arsitektur kolonial tidak terkenal karena bangunannya; tetapi justru karena FO dan pusat perbelanjaan yang menjamur.
Seminar dan diskusi ini membuat para pesertanya lebih mengenal siapa sosok Schoemaker dan karya-karyanya yang menghiasi Bandung. Diharapkan kedepannya, karya-karya Schoemaker dapat terus terjaga; tidak hanya menjadi bagian dari nostalgia kota Bandung atau objek pembelajaran arsitektur, namun juga dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
sumber : http://www.itb.ac.id/news/2586.xhtml
Dr. Liza Deviyanti H.Bun " Berbisnis Dengan Hati'
Tokoh wanita yang satu ini adalah wanita yang mampu menggabungkan kecantikanya dengan kecantikan hati. Ia adalah Dr.Liza Deviyanti H,Bun.
Dr.Liza memiliki jutaan teman yang berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari pedagang, pengusaha, polisi, gubernur, para pastur hingga pejabat-pejabat utama negeri ini. Maklum ia tak pernah memilih dalam berteman dan berprinsip untuk tak mengambil keuntungan dari pertemanannya itu. Baginya, “tuhan menciptakan manusia untuk saling mengasihi dan saling menolong. Di sinilah peran seorang teman, sebagai alat mewujudkan kasih tuhan kepada manusia.
Kendati demikian kebaikanya kadang disalahgunakan oleh orang lain. Karakternya yang mudah iba hati membuatnya tak hendak membalas keculasan dari orang yang menyakitinya. Kecuali bila menyangkut hak asasi oarng lemah. Liza yang pembawaanya mudah akrab, terbuka, openminded, dan sosial, bisa sangat marah dan muncul sebagai pembela kaum lemah! Meski itu harus merelakan persahabatanya? Nampaknya demikian. ” Yang benar harus dibela, tak peuli ia kaum lemah atau teman kita.
Menurutnya, sebaiknya bila teman kita yang bersalah dan culas, yang buat apa persahabatan diteruskan. Dalam berbisnis pun ia tidak manipulatif. Ia mengakui konsep bisnisnya adalah berbisnis dengan hati. Ia sangat bersyukur memiliki suami yang sangat mengasihi dan mengerti dirinya, orang tua yang mengayomi dan selalu memberi support, serta kedua putranyasangat berbakat dan berprestasi dan bahkan sering menjadi juara. Bahkan sampai saat ini ia masih mencintai keluarganya, sebagai bukti kehidupanya yang begitu indah.
Veronica Darwin : Meraih Karir Di Perbankan
Karir di perbankan sudah diminatinya semenjak masih duduk di bangku kuliah jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Atmajaya Jakarta. Sekarang, karirnya pun menanjak sebagai Branch Manager Standard Chartered. Ia beralasan sampai kapanpun perbankan di butuhkan masyarakat dan cocok dengan jurusanya semasa kuliah untuk penerapan ilmunya.
Veronica mengawali karirnya selepas kuliah dengan bekerja di Citibank pada 1996. Selama dua tahun ia berkutat di dunia sales Funding Officer. setelah itu dirinya memutuskan berkarir di Bank American Express selama 5 tahundengan posisi akhir sebagai Senior Assistant manager.
Pada karirnya lima tahun terakhir ia pun mencoba mengambil tantangan sebagai Saleas Manager Bank Commonwealth di pluit. Setelah sempat kembali ke Citibank sebagai Citigold Head, ia akhirnya melabuh di standar Chartered.
Wanita kelahiran medan 18 januari 1973 yang sudah memiliki seorang anak ini pun menjelaskan tentang dunia perbankan di indonesia sekarang ini. Ia prihatin dengan kenaikan suku bunga akan mempengaruhi minta orang memiliki rumah lewat KPR (Kredit Pemilikan Rumah) tetapi ia yakin keadaan akan kembali normal dalam jangka waktu singkat.
Sukardi Darmawan : Harapan Pada Presiden
Mari menempatkan kerangka berfikir, sikap, pandangan dan harapan obyektif, realitas sebagai wujud hasil kerja dan tanggung jawab bersama.
Pemilihan Presiden sudah berakhir, dan sudah jelas pasangan presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) dan Budiono yang memimpin Indonesia. kini kita tunggu saja lanjutan program dan rencana presiden. Apa harapan rakyat dan masyarakat pada presiden terpilih, bisa diwujudkan?
Secara makro, jelas rakyat ingin perubahan jangka pendek dan perbaikan menyeluruh menyangkut sendi-sendi kehidupan yang lebih baik pada jangka panjang. Menyeluruh disini, meliputi kondisi dan pandangan kebangsaan, wilayah kesatuan, politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, pertahanan, keamanan. Rakyat ingin ada tindakan, hasil nyata, bukan sekedar wacana, debat kusir, atau janji belaka. Rakyat ingin perdamaain, kesamaan visi, misi, dan tindakan memperbaiki negeri ini.
Dari aspek perceived quality, secara jujur dan realita kita sudah melihat bahwa kualitas presiden SBY lebih baik dibanding Mega atau Jk, rakyat sudah pintar dan kritis, sehingga mayoritas rakyat mendukung dan memilih SBY. kita menanti aspek perceived value, apa hasil atau nilai tambah yang diperoleh rakyat setelah SBY memimpin bangsa dan negara ini.
Menurut saya kunci sukses jangka pendek SBY adalah bagaimana bisa mengelola harapan rakyat. Bagaimana membuktikan janjinya seperti yang di ucapkan. Bagaimana dia konsisten mengimplementasi programnya, kalau jangka pendek itu SBY bisa memberikan perceived value lebih baik, maka akan bayak harapan diperoleh rakyat ke depan.
Sebaliknya kalau tidak pandai mengelola harapan rakyar dan tidak bisa memberikan perceived value lebih baik, rakyat akan kecewa. Jadi jangan berharap ada kemajuan cepat bangsa dan negara ini dan hanya bergantung sepenuhnya di tangan sepasang presiden. Tetapi marilah menempatkan kerangka berfikir dan realitas sebagai wujud hasil kerja dan tanggung jawab bersama.
Dokter Gigi Yang Tak Pernah Praktek
Kanjeng Pangeran Widodo Notohadinagoro Lulusan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas trisakti 1979 dan menyandang gelar dokter gigi, tapi Kajeng Pangeran Widodo Notohadinagoro tidak pernah merasakan praktek sebagai dokter gigi, Berbagai profesi pernah dilakoninya antara lain desainer alat kesehatan gigi, wiraswastawan dan bahkan sebagai politisi.
“Meski memiliki gelar dokter gigi, saya tidak terlalu ngoyo menjalani profesi sebagai dokter gigi. Saya lebih tertarik terjun ke dunia bisnis, tapi tentu saja yang ada kaitannya dengan ilmu kedokteran gigi,”ujar Widodo memberikan alasan.
Tahun 1989 diadakan Pameran Pengusaha Indonesia (PPI) dihadiri tamu-tamu asing dan banyak pengusaha Amerika yang juga datang ke pameran internasional tersebut. Beberapa pengusaha Amerika tertarik pada produk yang ditawarkan Widodo khususnya sample sikat gigi. Hanya saja dalam lobinya tersebut Widodo menetapkan syarat bahwa produk-produk tersebut harus ditempel label made in Indonesia.
Kepada para mahasiswa FKG Usakti, Widodo berpesan agar memanfaatkan dengan baik perkembangan teknologi dan fasilitas yang tersedia. “Sudah seharusnya para mahasiswa dapat memanfaatkan fasilitas yang tersedia untuk menciptakan penemuan baru terutama di bidang kedokteran gigi. Hal lain yang juga penting, jadikanlah teman sejawat sebagai tim, jangan saling bersaing dan saling iri,”pesan Widodo yang juga aktif di organisasi RAPI. Dan ORARI karena panggilan jiwa dan rasa kemanusiaan ini.
sumber : http://www.trisakti.ac.id/?page=alumni&ID=15
Filip Sutislio, Kepercayaan Adalah Nomor Satu
Pengalaman bayak di suatu profesi menjadikan seorang matang di bidangnya. Pengalaman banyak membuat seseorang berani mandiri mendirikan usaha berbasis keahlian yang didapatkan semasa kerja. Demikian yang dijalani marketing eksekutif Ray white, sekarang ia mengibarkan bendera JC Pro.
Sebelum ke Ray White, lulusan arsitek landscape Universitas Trisakti ini tadinya bekerja di konsultan arsitek. Namun karena krisis maka konsultan ini gulung tikar. Ia pun melihat peluang di bisnis properti.Saat itu penjualan rumah secondary sedang booming dan ia banyak melihat broker berlomba memasarkan rumah.
Setelah itu ia memutuskan bergabung dengan Ray White dan karinya pun menanjak dengan terpilih sebagai Bussines Assosiate Ray White Indonesia. tentu posisi ini diraih berkat prestasi kerjanya.
Selepas itu ia mendirikan JC Pro kelapa gading. JC singkatan dari Jakarta City, karena fokus usahanya di daerah jakarta. Tentu, keberanianya untuk mandiri ini bermodalkan pengalamannya selama ini.
Seorang broker pun, harus bisa memposisikan diri secara benar. ” Broker berada di tengah-tengah antara penjual dan pembeli dan kita harus beri win-win solution”. Pada dasarnya kita bisa berhasil di semua hal bahkan untuk hal yang baru bagi kita. ” Kuncinya adalah bagaimana kita bisa mengalahkan rasa takut diri sendiri,” ia pun berani ambil resiko memmbuka kantor broker baru dengan tenaga marketing tidak begitu banyak.
Kuncinya kita harus fokus pada pekerjaan ini dan juga adanya kerjasama tim yang kuat didalam satu kantor broker.

