Arifin Panigoro, “Unpad Harus Paling Depan Dorong Bandung Lebih Baik”

May 22, 2009 by admin  
Filed under Berita

Unpad sebagai perguruan tinggi negeri dengan jumlah mahasiswa yang cukup besar harus menjadi yang paling depan dalam mendorong perbaikan kawasan Bandung di bagian Selatan maupun Utara. Saat ini, Bandung memiliki sejumlah permasalahan klise, seperti kondisi yang dinilai mulai terlihat kumuh, mengingat jumlah penduduk yang melebihi kapasitas wilayah.

Arifin Panigoro mendukung Unpad agar lebih percaya diri dengan membuka kesempatan bagi mahasiswa asing belajar di Unpad (Foto: Dadan T.)

Arifin Panigoro mendukung Unpad agar lebih percaya diri dengan membuka kesempatan bagi mahasiswa asing belajar di Unpad (Foto: Dadan T.)

Pendiri Medco Group, Arifin Panigoro, menegaskan hal itu saat memberikan Kuliah Umum bertema “Merebut Masa Depan: Menyemai Masyarakat Enterpreurial untuk Kebangkitan Bangsa” di Grha Sanusi Hardjadinata, Rabu (20/05). Kegiatan yang digelar berkaitan dengan Hari Kebangkitan Nasional ini dihadiri oleh Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, Pembina Medco Foundation, Yani Yuhani Panigoro, Ketua DPRD Jawa Barat, Drs. H.A.M. Ruslan, dan Dewan Penyantun Unpad, Dr. Wiranto Aris Munandar, para Pembantu Rektor, sejumlah guru besar, para pimpinan universitas, dan ratusan mahasiswa peserta kuliah umum.

“Idealnya Bandung itu dihuni oleh 500.000 orang, sementara saat ini jumlah penduduk mencapai 10 kali lipat. Selain itu, jangan lagi mengutak-atik kawasan Bandung Utara karena sesungguhnya potensi paling besar justru ada di kawasan Bandung Selatan. Ini adalah tantangan bagi Unpad untuk memperjuangkan potensi di wilayah itu,” papar Arifin.

Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mengungkapkan bahwa Bandung yang memiliki Unpad di dalamnya harus menjadi center of excellent. Menurutnya, Bandung sangat cocok menjadi kota pendidikan, selain Jakarta dan Yogyakarta. Untuk itu, Arifin menegaskan bahwa Unpad perlu terbuka terhadap dosen dan mahasiswa dari luar negeri.

“Unpad harus lebih percaya diri dalam mengembangkan diri. Tetap pertahankan nuansa Sunda, namun tetap mendatangkan dosen dan membuka kesempatan bagi mahasiswa luar negeri untuk kuliah di Unpad,” pesan Arifin sambil menambahkan bahwa kondisi tersebut akan membawa Unpad menjadi perguruan tinggi bertarap internasional.

Dalam paparannya tersebut, Arifin yang gemar bermain golf ini menyampaikan pula seputar kiat dalam berbisnis dan perlunya menerapkan good corporate governance dalam setiap institusi. Menurutnya, ketika menjalankan bisnis, seseorang harus berani mengambil risiko, bersikap jujur, konsisten, dan terbuka dalam menjalin kerja sama dengan pihak manapun.

Jalin Kerja Sama
Usai menyampaikan kuliah umum, Prof. Ganjar Kurnia bersama Yani Yuhani Panigoro yang didampingi Arifin Panigoro menandatangani perjanjian kesepakatan bersama dalam bidang pendidikan, budaya, sosial, ekonomi, kesehatan, dan pelestarian lingkungan. Dalam konferensi pers, Prof. Ganjar mengatakan bahwa selain kerja sama dalam pemberian beasiswa, Unpad juga akan bekerja sama dalam mengirimkan mahasiswa untuk melakukan magang di Medco. Rektor juga berharap bahwa kerja sama tersebut dapat diarahkan pada bidang-bidang penelitian.

Prof. Ganjar Kurnia (Rektor Unpad), Arifin Panigoro, dan Yani  Yuhani Panigoro (Pembina Medco Foundation) saat penandatanganan kesepakatan kerja sama (Foto: Dudi Sugandi/PR)

Prof. Ganjar Kurnia (Rektor Unpad), Arifin Panigoro, dan Yani Yuhani Panigoro (Pembina Medco Foundation) saat penandatanganan kesepakatan kerja sama (Foto: Dudi Sugandi/PR)

Sementara itu, Yani mengungkapkan bahwa meski kesepakatan antara Unpad dengan Medco Foundation baru ditandatangani saat ini, namun sesungguhnya hubungan kerja sama tersebut telah lama terjalin. “Bukan hanya beasiswa, kami juga telah melakukan kerja sama dalam bidang kesenian dan kerja sama luar negeri,” ujar Yani.

Arifin yang menginginkan bentuk kerja sama yang praktis, seperti kerja sama dalam penghijauan juga disambut baik oleh Prof. Ganjar. Ia mengatakan bahwa Unpad yang memiliki lahan luas di Jatinangor dan Arjasari dapat dikembangkan lewat kerja sama tersebut.

Hal ini ditanggapi pula oleh Yani yang menyatakan bahwa pihaknya pernah melakukan penelitian tentang pertanian di Merauke. “Daripada meneliti di lahan pertanian yang jauh, lebih baik kan memanfaatkan yang dekat, seperti lahan yang dimiliki Unpad. Kita akan mulai dengan yang kecil-kecil dulu, kemudian berlanjut ke tahap-tahap yang lebih besar,” lanjut Yani di hadapan puluhan wartawan media massa cetak maupun elektronik. (eh)*

Sediakan 25 M Abadikan Nama Anda di Salah Satu Gedung Kampus

February 25, 2009 by admin  
Filed under Headline

Apabila nama Anda ingin tercantum menjadi nama salah satu gedung di perguruan tinggi di Indonesia, itu bukanlah hal yang sulit. Anda tinggal menyediakan dana sejumlah 25 miliar.

Baru-baru ini terdengar kabar untuk menamakan sebuah gedung di ITB dihargai dengan jumlah tersebut (25 miliar). Sebuah nominal yang sangat tinggi untuk (hanya) mencantumkan sebuah nama di salah satu gedung Kampus ITB, Jalan Ganesa, Bandung.

Berdasarkan sebuah informasi dari sebuah blog, Gedung di ITB bernama Benny Subianto, awalnya ialah gedung Laboratorium Teknologi (Labtek) V tempat Prodi Informatika di Fakultas FTI berada.

Melalui SK Rektor, empat gedung di tengah kampus (Gedung LabTek V, VI, VII, dan VIII) diberi nama dengan nama para alumni ITB. Gedung LabTek VI (yang merupakan lokasi Prodi Teknik Fisika dan Teknik Kelautan) diberi nama Gedung Teddy P. Rachmad. Sementara Gedung Labtek VII (lokasi Prodi Farmasi) dan Gedung LabTek VIII (tempat Elektro dan Fakultas STEI) diberi nama Gedung Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro.

Selama ini di ITB banyak gedung yang diberi nama dengan sebutan “LabTek”. Mulai dari Gedung LabTek I, II, hingga XII, namun sekarang nama-nama gedung itu telah berubah dengan nama-nama alumni ITB, dengan alasan “agar mudah diingat”. Tentu tidak sembarang alumni namanya bisa diabadikan menjadi nama gedung. Hanya alumni yang menyumbang dana Rp25 miliar yang bisa diabadikan namanya.

Awal pengubahan nama itu, pada bulan Agustus 2008 yang lalu ITB melakukan penggalangan Dana Lestari. Acara itu dihadiri oleh puluhan alumni yang dikenal sebagai pengusaha sukses. Dari malam penggalangan dana itu, berhasil diperoleh komitmen Rp 100 milyar yang disumbang oleh empat orang alumni “kelas kakap”, yaitu Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, Teddy P. Rachmad, dan Benny Subianto. Masing-masing mereka menyumbang 25 miliar.

Suatu kebanggaan ataukah sebuah ironi ?