Semangat Ki Hadjar Dewantara
Ki hajar dewantara, sosok tokoh yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan yang memajukan pendidikan di Indonesia. Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889. Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari keluarga keraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat juga aktif dalam Organisasi sosial dan politik. Organisasi ini didirikan bersama Douwes Dekker dan dr.Cipto Mangoenkoesoemo.
Ajaran kepemimpinan Ki Hajar dewantoro yang sangat populer di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Yang pada intinya bahwa seorang pemimpin harus memiliki ketiga sifat tersebut agar dapat menjadi panutan bagi bawahan atau anak buahnya.
Ing Ngarso Sun Tulodo artinya : ing ngarso itu terdepan/dimuka, sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo artinya tauladan. jadi makna Ing Narso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus memberikan suri tauladan bagi bawahan atau anak buahanya.
Demikian pula dengan kata Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berarti memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. dorongan ini sangat di butuhan oleh bawahan, karena paling tidak hal ini dapat membutuhkan motifasi dan semangat kerja.
Beliau meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan disana. Sebagaiwujud melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hajar Dewantara oleh pihak penerus perguruan Taman siswa didirikan Museum Dewantara Kirty Griya, Yogyakarta.
Ketika Masa orde lama beliau menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan. Ki Hajar Dewantara dekat dengan rakyat, cinta kemerdekaan dan bangga atas budaya bangsanya sendiri. Tindakan Ki Hadjar Dewant iti dilatarbelakangi kecintaannya kepada rakyat.
Dipilihnya bidang pendidikan dan kebudayaan sebagai medan perjuangan tidak lepas dari “strategi” melepaskan diri dari belenggu penjajah. kita sebagai generasi muda selayaknya menyambut perjuangan beliau dan melanjutkan cita-citanya untuk mamajukan pendidikan diindinesia.
Melihat semakain hari realitas pendidikan kita semakin tidak merakyat menurut Ki Hadjar Dewantara, tak selayaknya kita berdiam diri, apalagi dizaman yang serba ada ini, mesti sepertinya generasi muda mampu selangkah lebih maju dari tokoh-tokoh yang telah mendahuluainya seperti Ki Hadjar Dewantara sehinga di masa yang akan datang akan mampu memperbaiki dan menyempurnakanya.

