Launching Beasiswa Online
Salah satu tekad Universitas Brawijaya adalah jangan sampai ada mahasiswa tidak dapat kuliah karena tidak ada biaya. Untuk itu, berbagai program telah dijalankan diantaranya program SPP proporsional dan beasiswa. Demikian disampaikan Rektor UB, Prof. Dr. Ir. Yogi Sugito, dalam jumpa pers yang dilangsungkan di ruang kerjanya, Selasa (2/6). Turut hadir dalam jumpa pers tersebut adalah Warkum Sumitro, SH, MH (Pembantu Rektor II), Ir. HB. Ainurrasyid, MS (Pembantu Rektor III), Dra. Welmin Soenyi Ariningsih, M.Lib (Kepala BAAK) dan Taufiq BT, ST, MT (staf ahli PR III). Rektor menambahkan, beasiswa senilai Rp. 16.5 M akan digelontorkan bagi sekitar 6000 mahasiswa UB yang berasal dari dana Dikti, DIPA dam sponsor perusahaan/bank/swasta. Beasiswa tersebut menurut Rektor akan dibagikan kepada mahasiswa dalam dua kategori yaitu mahasiswa kurang mampu dan mahasiswa berprestasi (akademik dan non akademik) dengan kisaran nilai antara Rp. 250 ribu/bulan hingga Rp. 1.4 juta/bulan. Selain SPP proporsional dan beasiswa, UB juga tengah mempersiapkan asrama bagi mahasiswa baru di atas tanah seluas 7 hektar di kawasan Dieng serta asrama bagi mahasiswa kurang mampu di dalam lingkungan UB. Beasiswa Online Dalam keterangannya, PR III menyebutkan bahwa beasiswa tersebut nantinya akan dibagikan kepada mahasiswa melalui pendaftaran secara online di sini. Sistem beasiswa online ini, menurut PR III adalah yang pertama di Indonesia dan akan diadopsi oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti). Dari data yang terkumpul nantinya, terdapat sebuah tim yang melakukan verifikasi dipimpin oleh Pembantu Dekan III di masing-masing fakultas. “Ada sanksi tegas jika nanti data yang diberikan tidak sesuai dengan yang disampaikan. Untuk itu, perlu dicantumkan juga keterangan RT/RW dan nomor telepon tetangga”, ujar Rektor. Sanksi tersebut berupa sanksi akademik digugurkan satu semester untuk yang memanipulasi data dan mendapatkan beasiswa lebih dari satu. [nok]
Sumber : prasetya.brawijaya.ac.id/jun09.html#beasiswa
Beasiswa S-2 dan S-3 ke Perancis
Pendaftaran Bourses du Gouvernement Francais (BGF) atau Beasiswa dari Pemerintahan Perancis tahun 2010 untuk jenjang S-2 dan S-3 siap dibuka kembali pada November 2009 mendatang.
Hal itu diungkapkan oleh Asisten Campus France Indonesia, Anton Hilman, di Jakarta, Kamis (28/5). Anton mengatakan, beasiswa BGF diberikan kepada pejabat pemerintah, dosen, serta mahasiswa, khususnya kepada mereka yang terlibat dalam program kerja sama antara negara Perancis dan Indonesia.
“Sebelum diberangkatkan ke Perancis mereka akan mendapat pelatihan Bahasa Perancis di Jakarta selama setahun,” kata Anton. Anton menambahkan, Pemerintah Perancis, melalui kedutaan besarnya di Jakarta, telah memberikan beasiswa untuk warga negara Indonesia selama lebih dari 28 tahun.
Hilman menuturkan, persyaratan utama memperoleh beasiswa itu di antaranya adalah keterampilan komunikasi yang baik dalam bahasa Inggris, baik itu lisan maupun tulisan (IELTS 6.5), Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimum 3,0 untuk jurusan eksakta, serta 3,5 untuk non-eksakta.
Selain itu, tambah Anton, hal lain yang tidak kalah penting dari semua persyaratan adalah orientasi studi saat berada di Perancis. Dia mengatakan, prioritas beasiswa akan diberikan kepada mereka yang menekuni bidang studi seperti rekayasa (manajemen air, agronomi, teknik sipil, teknologi informasi), ilmu pengetahuan (bioteknologi, komunikasi, lingkungan hidup, risiko bencana dan manajemen, energi), administrasi, ekonomi, hukum, dan ilmu politik.
Informasi lainnya, kata dia, cakupan beasiswa tersebut meliputi biaya pendidikan dan ongkos hidup selama setahun mengikuti kursus intensif bahasa Perancis, tunjangan hidup bulanan, satu tiket pulang ke Tanah Air, dan asuransi.
Sumber : www.undip.ac.id/content/view/587/1/
Dosen Unpad, Dian Ekawati, Terima Beasiswa Pendidikan S-3 dari Presiden RI
Dosen jurusan Sastra Jerman Fakultas Sastra (Fasa) Unpad, Dian Ekawati, menjadi wakil dosen yang menerima secara simbolis beasiswa pendidikan S-3 ke luar negeri oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Beasiswa yang merupakan bagian dari program Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) ini diserahkan Presiden SBY saat memperingati puncak Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), Selasa (26/05) di Sasana Budaya Ganesha, Bandung.
“Saat itu surat keputusan penerimaan beasiswa diberikan secara simbolis kepada saya dan seorang teman dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Kami mewakili teman-teman sesama penerima beasiswa Dikti dari seluruh Indonesia,” tulis Dian dalam surat elektronik yang dikirimkan beberapa waktu lalu.
Wanita kelahiran Bandung, 15 Februari ini mengaku senang dan berterima kasih atas terpilihnya ia sebagai perwakilan penerima beasiswa oleh orang nomor satu di Indonesia itu. Tampilnya Dian sebagai penerima beasiswa itu membawa dirinya diminta menjadi nara sumber dalam sebuah program dialog mengenai kiat mendapatkan beasiswa di Televisi Republik Indonesia (TVRI) Jawa Barat – Banten. “Talkshow langsung di TV menyenangkan juga. Mungkin karena presenter-nya pun teman saya sendiri, jadi saya bisa sangat rileks. 30 menit terasa sangat sebentar,” katanya.
Dian merupakan satu dari ratusan dosen yang memperoleh beasiswa pendidikan S-3 ke luar negeri dari Ditjen Dikti. Menurut rencana, wanita yang telah menyukai bahasa Jerman sejak duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA) ini akan memulai perkuliahan pendidikan doktoralnya pada September mendatang.
Bagi Dian, bahasa Jerman telah menjadi bahasa yang dicintainya sebagaimana dirinya mencintai bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Awal ketertarikan Dian pada Jerman hanya karena keinginannya mengunjungi Museum Coklat di kota Cologne. Keinginan tersebut akhirnya membawa Dian menekuni dunia linguistik Jerman hingga sampai saat ini sering memenuhi panggilan sebagai pembicara dalam seminar dan workshop.
Dian meyakini bahwa kunci membuka dunia adalah dengan menguasai bahasa. Dengan mempelajari bahasa apapun, lanjut Dian, seseorang sedang mempelajari dunia. Menurutnya, melalui bahasa seseorang dapat mempelajari semua yang berhubungan dengan negara pemilik bahasa tersebut. “Lewat bahasa kita bisa mempelajari apapun, mulai dari budayanya, konsep hidup, teknologinya, cara berpikirnya, dunianya. Kita bisa ambil yang bagusnya, kenapa tidak?” ujarnya.
Dengan mempelajari bahasa asing pula, ujar Dian, seseorang menjadi lebih memahami tanah airnya. “Untuk saya pribadi, saya jadi lebih mengenal diri saya, bahasa, dan bangsa saya sendiri. Kebetulan ketika saya menempuh pendidikan S-2 di Jerman dulu, saya juga mengajar bahasa Indonesia di Universitas Bayreuth, tempat saya kuliah,” tambah Dian.
Meski rasa cintanya begitu besar pada bahasa Jerman, namun menurut Dian, tetap saja harus ditekuni dengan baik. Hasil dari kecintaan dan ketekunannya itu, Dian pernah diundang secara khusus untuk menjadi penerjemah pejabat penting di Jerman. Awal Mei lalu, penyuka dunia fotografi ini diminta untuk menjadi penerjemah Heidrun Tempel, Utusan Khusus Kementrian Luar Negeri Jerman di Berlin dalam sebuah acara pembukaan dan diskusi tentang Islam di Jerman. Pada saat yang sama, Dian juga diminta menjadi penerjemah Direktur Goethe Institut Indonesia dan Wakil Gubernur Jawa Barat.
Dari situlah, kata Dian, Direktur Goethe Institut langsung menawari dirinya ikut dalam salah satu proyek terjemahan dan mengikuti kursus menjadi interpreter profesional di Heidelberg atas biaya Goethe Institut. “Saat akhir diskusi, Frau Tempel mengundang saya ke Berlin untuk menemuinya dan menjadi penerjemah dalam acara yang sama di Berlin. Dia meminta saya menerjemahkan semua perkataannya itu agar publik mengetahuinya. Ini momen luar biasa,” sahut Dian bangga.
Penerjemah buku-buku bahasa Jerman ini berpesan bahwa untuk menguasai bahasa asing, seseorang harus lebih dulu menyukai bahasa itu dan coba untuk mendalaminya. “Jangan setengah-setengah,” kata Dian sambil menegaskan bahwa dirinya hingga saat ini masih terus belajar.
Sumber : www.unpad.ac.id/berita/dosen-unpad-dian-ekawati-terima-beasiswa-pendidikan-s-3-dari-presiden-ri/
Beasiswa AEC (Australian Education Centre)
Penawaran beasiswa Australian Education Centre (AEC), meliputi:
- Endeavour Awards (dibuka dari 6 April – 31 juli 2009)
- Australian Leaderships Awards (ALA) dibuka dari Maret s.d. 30 Juni 2009
- Australian Development Scholarship (ADS) dibuka dari 15 Juni s.d. 4 September 2009
Bagi yang berminat dapat mengirimkan berkas pengajuan rankap 4 dikirim ke Kantor Urusan Internasional Universitas Gadjah Mada Paling lambat satu minggu sebelum penutupan masing-masing beasiswa. Informasi lebih lanjut silahkan baca di http://australianscholarships.gov.au/.
Sumber : www.ugm.ac.id/index.php?page=infougm&artikel=258
Ubaya Kirim Mahasiswa ke Australia
SURABAYA – Tiga mahasiswa Universitas Surabaya peraih Ubaya International Scholarship resmi dilepas pihak universitas akhir pekan ini. Ketiga mahasiswa tersebut selanjutnya menempuh pendidikan selama satu semester di Flinders University dengan beasiswa penuh.
Acara pelepasan yang berlangsung di Gedung International Village Ubaya, Jumat (8/5), dihadiri rektor Ubaya Wibisono Hardjopranoto, Direktur kantor hubungan International Adi Tedjakusuma, Dekan Fakultas Ekonomi Sujoko Efferin, Manajer Australian Education Center (AEC) Josephine Ratna dan para orang tua mahasiswa peraih beasiswa tersebut.
Wibisono mengatakan, beasiswa ini merupakan beasiswa penuh ke luar negeri pertama yang dikeluarkan oleh perguruan tinggi. Karena itu Wibisono berpesan, para mahasiswa hendaknya menjaga nama baik Indonesia selama di Flinders University. Wibisono juga ingin ketiga mahasiswa membangun kemitraan untuk adik-adik kelasnya nanti.
“Sebagai duta Indonesia dan duta Ubaya, kalian harus menjaga nama baik kita,” kata Wibisono.
Adi menjelaskan, program beasiswa merupakan kerjasama antara Flinders University dengan Ubaya. Dalam kerjasama ini, Flinders University menanggung pendidikan selama satu semester. Sementara ubaya menanggung biaya transportasi ke australia dan biaya hidup selama di sana.
Melalui jaminan tersebut, ketiga mahasiswa yang berangkat ke Australia tidak perlu mengeluarkan biaya apa pun. Dalam program ini, lanjut Adi, mahasiswa yang berangkat akan mendapat sertifikat sebagai mahasiswa pertukaran pelajar. Karena kuota hanya diperuntukkan bagi tiga mahasiswa, Ubaya menggelar seleksi pada 13 April lalu. (rey)
Sumber : www.ubaya.ac.id/ubaya/news_detail/321/Ubaya_Kirim_Mahasiswa_ke_Australia.html

