Ilmu Hulu Dan Ilmu Hilir

June 4, 2009 by admin  
Filed under Artikel

washjeff6aKetika Andre-Marie Ampere merumuskan Hukum Ampere, orang belum mengetahui apa gunanya listrik. Dari hukum itu, orang hanya mengetahui bahwa konduktor yang bergerak di medan magnet, selama masih bergerak, menghasilkan arus listrik di konduktor itu. Demikian pun sebaliknya, selama arus berubah di konduktor yang terletak di medan magnet maka ada gaya yang mendorong konduktor itu. Ilmu ini adalah ilmu hulu.

Berdasarkan ilmu hulu ini orang menciptakan generator listrik dan motor listrik. Ilmu ini adalah ilmu hilir. Ilmu hilir ini telah mengubah dunia. Dunia sekarang serba listrik. Tanpa listrik, masyarakat kita akan macet.

Ketika orang menemukan semikonduktor maka John Bardeen, William Shockley, dan Walter Brattain menciptakan transistor. Kalau pengetahuan akan semikonduktor kita nama-kan ilmu hulu maka penciptaan transistor merupakan ilmu hilir. Ilmu hilir transistor ini mengubah dunia telekomunikasi dari zaman lama ke zaman baru.

Ilmu hulu lainnya adalah reaksi berantai pada uranium yang ditemukan oleh Enrico Fermi. Dalam Perang Dunia kedua, ilmu hulu ini segera pula menghasilkan ilmu hilir berupa bom atom. Ilmu hilir lainnya adalan reaktor nuklir yang da-pat digunakan untuk pembangkitan tenaga listrik.

Kita menemukan sejum-lah ilmu hulu di dalam mate-matika. Matematikawan sendiri tidak mengetahui kegunaan dari kaidah matematika yang mereka garap. Matematikawan melahirkan ilmu hulu berupa bilangan biner, bilangan prima, dan bahkan bilangan kompleks. Kemudian muncul ilmu hilir yang menggunakan ilmu hulu itu. Bilangan biner digunakan oleh komputer dan teknik digital. Bilangan prima digunakan juga oleh komputer untuk enkripsi informasi yang dirahasiakan. Bilangan kom-pleks digunakan di teori medan gaya di berbagai bidang ilmu.

Tidak selalu ilmu hilir itu merupakan turunan langsung dari ilmu hulu. Di bidang linguistik, Avram Noam Chomsky mengemukakan tata bahasa generatif dalam pembentukan bahasa. Di bidang matematika, Alan Turing mengemukakan otomata. Dua bidang ini bertemu sehingga bahasa yang disusun melalui tata bahasa generatif dapat dibaca oleh otomata. Mereka adalah ilmu hulu dan dari ilmu hulu ini lahirlah ilmu hilir berupa program komputer yang dapat melakukan banyak hal.

Namun program kom-puter itu juga tidak dapat bekerja banyak kalau tidak bertemu dengan ilmu yang dikemukakan oleh John von Neumann. John von Neu-mann mengemukakan bahwa program itu disimpan di dalam komputer sehingga secara otomatis memerintah komputer itu tanpa harus menunggu perintah orang langkah demi langkah.

Kita dapat belajar ilmu hulu di mana-mana termasuk di negara maju. Kita juga dapat belajar ilmu hilir, tetapi tidak semua ilmu hilir dapat kita pelajari. Banyak ilmu hilir yang menjadi rahasia para penciptanya sehingga tidak diajarkan kepada sembarang orang. Kita bisa belajar tentang reaksi nuklir sebagai ilmu hulu tetapi, sebagai ilmu hilir  kita tidak dapat belajar membuat bom atom.

Ada banyak cara untuk menularkan ilmu kepada orang lain. Salah satu cara adalah kuliah. Cara lainnya adalah seminar dan publikasi ilmiah. Selama tahun-tahun belakangan ini, kita sering menyaksikan penyelenggaraan seminar ilmiah. Perguruan tinggi juga menyelenggarakannya. Salah satu bahan seminar ilmiah adalah hasil penelitian.

Pada umumnya seminar ilmiah itu mengemukakan ilmu hulu atau, sekurang-kurang nya, ilmu setengah hulu. Ada juga bahan seminar yang tergolong ke dalam ilmu setengah hilir. Semua makalah seminar telah melewati tim seleksi sehingga cukup bermutu. Setelah seminar, semua makalah disimpan di dalam lemari. Kita tidak lagi menemukan ilmu hilirnya.

Sekadar contoh kita melihat kedelai. Berapa banyak sudah penelitian di bi-dang kedelai dilakukan orang dan berapa banyak makalah seminar tentang kedelai ditulis orang. Mereka merupakan ilmu hulu, ilmu setengah hulu, atau ilmu setengah hilir. Namun di pasar kita menggunakan kedelai impor karena kata orang kedelai impor memiliki mutu yang lebih baik. Demikian pula halnya dengan produk lainnya.

Gejala ini menggugah kita untuk dapat menghasilkan ilmu hilir. Sudah waktunya perguruan tinggi melakukan penelitian sampai ke ilmu hilir dan menghasilkan produk yang dapat dipakai.

Sumber :  www.untar.ac.id/index.aspx?n=79&s=89