DIES EMAS ITB
ITB Memandu Masa Depan Bangsa untuk Mewujudkan Daya Saing Bangsa melalui Keunggulan Teknologi.
Agenda Kegiatan Dies Emas ITB
* Open House (27-28 Februari 2009)
* Sidang Terbuka ITB Dies ITB ke-50 (2 Maret 2009)
* Pameran (2-7 Maret 2009)
* Seminar Nasional Energi dan Lingkungan (4-5 Maret 2009)
* Kongres Luar Biasa/Rakernas Ikatan Alumni ITB (6 Maret 2009)
* Temu Alumni ITB (7 Maret 2009)
* Opera Ganesha (8 Maret 2009)
* Perayaan Hari Pendidikan Nasional di ITB (3 Mei 2009)
* Konferensi Internasional (15-20 Juni 2009)
* Upacara peringatan 89 Pendidikan Tinggi Teknik Indonesia (3 Juli 2009)
sumber : http://www.itb.ac.id/dies50/
Sediakan 25 M Abadikan Nama Anda di Salah Satu Gedung Kampus
Apabila nama Anda ingin tercantum menjadi nama salah satu gedung di perguruan tinggi di Indonesia, itu bukanlah hal yang sulit. Anda tinggal menyediakan dana sejumlah 25 miliar.
Baru-baru ini terdengar kabar untuk menamakan sebuah gedung di ITB dihargai dengan jumlah tersebut (25 miliar). Sebuah nominal yang sangat tinggi untuk (hanya) mencantumkan sebuah nama di salah satu gedung Kampus ITB, Jalan Ganesa, Bandung.
Berdasarkan sebuah informasi dari sebuah blog, Gedung di ITB bernama Benny Subianto, awalnya ialah gedung Laboratorium Teknologi (Labtek) V tempat Prodi Informatika di Fakultas FTI berada.
Melalui SK Rektor, empat gedung di tengah kampus (Gedung LabTek V, VI, VII, dan VIII) diberi nama dengan nama para alumni ITB. Gedung LabTek VI (yang merupakan lokasi Prodi Teknik Fisika dan Teknik Kelautan) diberi nama Gedung Teddy P. Rachmad. Sementara Gedung Labtek VII (lokasi Prodi Farmasi) dan Gedung LabTek VIII (tempat Elektro dan Fakultas STEI) diberi nama Gedung Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro.
Selama ini di ITB banyak gedung yang diberi nama dengan sebutan “LabTek”. Mulai dari Gedung LabTek I, II, hingga XII, namun sekarang nama-nama gedung itu telah berubah dengan nama-nama alumni ITB, dengan alasan “agar mudah diingat”. Tentu tidak sembarang alumni namanya bisa diabadikan menjadi nama gedung. Hanya alumni yang menyumbang dana Rp25 miliar yang bisa diabadikan namanya.
Awal pengubahan nama itu, pada bulan Agustus 2008 yang lalu ITB melakukan penggalangan Dana Lestari. Acara itu dihadiri oleh puluhan alumni yang dikenal sebagai pengusaha sukses. Dari malam penggalangan dana itu, berhasil diperoleh komitmen Rp 100 milyar yang disumbang oleh empat orang alumni “kelas kakap”, yaitu Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, Teddy P. Rachmad, dan Benny Subianto. Masing-masing mereka menyumbang 25 miliar.
Suatu kebanggaan ataukah sebuah ironi ?
Jurusan Geodesi ITB Terancam Dibubarkan
Rektor ITB Djoko Susanto mengatakan segera memanggil seluruh dosen Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika. Mereka akan ditanya dan dimintai keterangan soal kasus yang menimpa jurusan tersebut dengan terjadinya korban saat mengikuti pelantikan calon anggota Ikatan Mahasiswa Geodesi, Hari minggu(8/2) lalu.
Dwiyanto Wisnunogroho, 22 tahun, tewas saat mengikuti pelantikan di Desa Pagerwangi, Lembang, Kabupaten Bandung. Menurut informasi yang berkembang, ia terlalu kelelahan saat perjalanan dan pingsan, kemudian ia dibawa ke RS St. Boromeus Bandung, namun nyawanya tak tertolong saat tiba di Rumah Sakit.
Seluruh dosen dan mahasiswa yang terkait kasus ini akan segera diperiksa, khususnya mahasiswa angkatan 2005 dan 2006 yang terlibat dalam kepanitiaan. “Kami akan bertindak tegas kepada siapapun yang diluar batas” imbuh Rektor.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Widyo Nugroho Sulasdi menambahkan bahwa selain dimintai keterangan, para mahasiswa yang terlibat akan dilakukan tes psikologi, hal ini dilakukan untuk mengukur tingkat destruktif di kalangan mahasiswanya.
Beliau juga mengatakan bahwa dalam di tingkat perguruan tinggi, rata-rata mahasiswa belum punya karakter yang kuat untuk kepekaan sosial. Meski kegiatan tersebut dilarang kampus, mereka tetap membiarkannya. “Hal ini tidak boleh terjadi lagi kalau tidak jurusan ini akan dibubarkan” ujarnya.
ITB Tempati Urutan ke-90 Dunia di Bidang Teknologi
LONDON, itb.ac.id – Insitut Teknologi Bandung, dalam ranking universitas dunia yang dirilis oleh Times Higher Education Magazine-QS (THE-QS), Selasa (3/10) bersama-sama dengan University of Calgary, Canada berbagi tempat menduduki posisi ke-90 sebagai universitas terbaik dunia untuk kategori Teknologi (Technology). Memperoleh skor 33.5 (skala 100) memantapkan posisi ITB dalam daftar elit seratus besar dunia, naik dibanding posisi tahun lalu dimana ITB berada di level 114 dunia. Kampiun kategori universitas terbaik bidang teknologi diraih oleh MIT dengan skor sempurna 100.
Times Higher Education Magazine-QS (THE-QS), sebuah lembaga pemeringkat universitas yang berbasis di London, melakukan penilaian dengan kriteria yang terdiri atas empat hal. Pertama, Research Quality, memiliki bobot 60% dari total penilaian, terdiri atas Peer Review (40%) berdasar kuesioner pada ribuan academicians (Professor) yang kompeten dan Citation Index (20%) atas hasil penelitian dan karya ilmiah yang dikutip; Kedua, Graduate Employability (10%) yang diukur dengan melakukan penilaian melalui Recruiter Review; Ketiga, International Outlook (10%) dengan menilai keberadaan fakultas dan mahasiswa internasional; Keempat Teaching Quality (20%) yakni Rasio Mahasiswa terhadap Jumlah Staf Pengajar (Student Faculty Ratio).
Meski berhasil masuk jajaran elit seratus besar dalam bidang teknologi, Insititut Teknologi Bandung masih harus berjuang keras agar bisa benar-benar mengukuhkan visi sebagai universitas kelas dunia. Pasalnya, dalam penilaian untuk kategori umum (tidak spesifik bidang tertentu) ITB masih berada di urutan ke-315. Meski beranjak dari posisi 369 tahun 2007, level tahun ini masih lebih rendah dibanding pencapaian tahun 2006 lalu dimana ITB berada dalam urutan ke-258.
Dalam daftar yang dirilis Selasa, 3 Oktober 2008 silam, Universitas Indonesia berada dalam urutan ke-287, melejit dari posisi 395 tahun lalu. Universitas Gadjah Mada juga mengalami perbaikan posisi dari 360 di tahun 2007 menjadi urutan ke-316 tahun ini.
THES tahun ini menobatkan National University of Singapore (NUS) di urutan ke-30 dunia sekaligus sebagai yang terbaik di Asia Tenggara. Chulalongkorn University dari Thailand untuk pertama kali masuk daftar 200 besar dengan menempati posisi 166 dunia bersama dengan Universitet Gottingen, Jerman.
Dalam penilaian Dikti yang dirilis Februari lalu, ITB memperoleh nilai akreditasi A dengan predikat Sangat Memuaskan.
Selengkapnya ranking universitas dunia : http://www.topuniversities.com/worlduniversityrankings/results/2008/subject_rankings/technology/
sumber: http://www.itb.ac.id/news/2224.xhtml

