Untar di Usia Emasnya : Kepedulian Terhadap Lingkungan
Menginjak usia 50 merupakan tahapan dimana seseorang telah mampu menemukan kematangan hidup, dimana manusia akan menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi segala sesuatu. Metafora ini kiranya sesuai dengan Universitas Tarumanagara yang baru saja memasuki usia emasnya.

Dalam perayaan hari jadinya yang ke-50, Untar lebih mengedepankan sisi entik untuk mengangkat kembali kekayaan budaya Indonesia sebagai cerminan bangsa. Hal ini terwujud dalam acara pagelaran seni yang bertempat di auditorium gedung utama lantai 3 Universitas Tarumanagara pada Sabtu, 16 Mei 2009 lalu. Tema yang diangkat adalah Peningkatan Kepekaan Budaya Pusaka Indonesia. Untar menyadari perkembangan globalisasi sekarang ini telah membuat kita semakin lupa akan kebudayaan Indonesia. Karena itulah acara ini bertujuan untuk mengingatkan kembali bahwa sebenarnya banyak kebudayaan Indonesia yang bagus dan enak untuk dinikmati,” penuturan Kartika Oktorina selaku panitia acara HUT Untar ini.

Acara yang dihadiri oleh + 200 penonton ini, diisi dengan berbagai suguhan pertunjukan seni beraroma etnik budaya yang sangat menarik, mulai dari musik, olah vokal, sampai tarian. Kegiatan, dibuka oleh Rektor Untar, Dr. Monty P. Satiadarma. Nuansa kebudayaan sudah terasa sejak awal, yaitu ketika dibuka oleh penampilan kelompok paduan suara Orcaellae Vox Sacra Tarumanagara, yang sebelumnya telah berhasil memperoleh dua medali emas dalam Festival Paduan Suara Budaya Antar Bangsa di di Venezia Italy, pada bulan Mei 2009. Orcaellae Vox Sacra, menampilkan lagu – lagu daerah yang spektakuler dikemas dalam nuansa etnik dan sentuhan kontemporer yang mempesona, seperti dalam lagu Kerraban Sape, folksong dari Madura, Luk – Luk Lumbu, lagu dari daerah Banyuwangi, dan Yamko Rambe Yamko, dari Papua. Kemudian ada pula penampilan dari Angela Astri Soemantri, alumni mahasiswi Untar Fakultas Psikologi, dalam memainkan alat musik Gu-Zheng dengan iringan alunan suara gitar sang ayah. Tidak sampai di situ, Sanggar tari Fakultas Psikologi, Padmanegara juga unjuk kebolehannya dalam menampilkan Tari Seudati dan Tari Toba yang sangat luar biasa.

Acara terasa lebih istimewa dengan kehadiran Viky Sianipar, dkk dalam memanjakan telinga dan mata penonton dengan musik etnik kontemporenya. Aliran musiknya yang unik tidak seperti musik kebanyakan ini, merupakan hasil perpaduan dari musik barat dengan musik tradisional Indonesia, khususnya musik Batak. Pada kesempatan itu juga ia berkolaborasi dengan beberapa penyanyi, yaitu Nenny Oktavia, Ichsan Akbar, dan seorang mahasiswi Untar, Patricia yang membawakan lagu daerah Es Lilin dan Kicir-kicir. Puncaknya, Viky Sianipar berkolaborasi dengan Sudjiwo Tedjo dalam membawakan lagu Bengawan Solo yang telah diaransemen ulang yang menghasilkan nada-nada tidak biasa. Penampilan Sudjiwo Tedjo terlihat sangat luar biasa dengan sentuhan gerakan-gerakan teatrikal, serta guyonan-guyonan khas darinya.

Dalam perayaan HUT yang ke-50 ini, Untar juga tak lupa untuk mengangkat sisi kemanusiaan sebagai bentuk pengabdian dan kepeduliannya kepada masyarakat sekitar. Hal ini terwujud dalam peluncuran Lingkungan Binaan RW 6 Kelurahan Tomang-Grogol dengan pengadaan kegiatan identifikasi golongan darah bagi warga RT 01, 04, 07, dan 09, serta usaha perbaikan perpustakaan di RW 06 tersebut. Di samping itu, acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat dan Ventura, Fakultas Psikologi dan Fakultas Ilmu Komunikasi Untar ini juga bekerja sama dengan Yayasan Mitra Netra, untuk mengajak masyarakat secara umum, dan warga Untar secara khusus, untuk ikut menjadi relawan dalam pengetikan ulang 1000 buku untuk Tunanetra. Kegiatan pengetikan ulang 1000 buku ini dilaksanakan sampai tanggal 16 Juni bertempat di Gedung M lantai 5 Universitas Tarumanagara.

Dengan adanya kegiatan semacam ini diharapkan di umurnya yang telah mencapai setegah abad, Universitas Tarumanagara dapat semakin menunjukkan kebijaksanaan dan kematangannya dalam memberikan komitmen pelayanannya, tidak hanya dalam bidang pendidikan, tapi juga dalam bidang sosial kemasyarakatan sebagai bagian dalam usaha mewujudkan Indonesia yang lebih maju.
Sumber : www.untar.ac.id/index.aspx?n=48&s=386
Pekan Peduli 2009, Sehat itu?
Departemen Sosial Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI) mengadakan kegiatan ”Pekan Peduli 2009” bertempat di Auditorium Gedung IX FIB UI, kampus Depok. Acara ini dilaksanakan dari tanggal 13 hingga 15 Mei 2009. Rangkaian kegiatan terdiri dari Penyuluhan kesehatan ”Bekam & Herbal”, seminar ”Diet Sehat”, pelaksanaan donor darah serta pengobatan kesehatan dengan metode Bekam.
Mengawali rangkaian acara, Ketua Pelaksana Pekan Peduli 2009 menyampaikan bahwa pelaksanaan acara ini merupakan salah satu program kerja tahunan DepSos BEM FIB UI. Kecenderungan semakin meningkatnya aktivitas sivitas akademika UI terkadang menyebabkan kurangnya kepedulian para mahasiswa terhadap aspek kesehatan, terutama kesehatan diri sendiri. Oleh karena itu melalui pelaksanaan acara ini, diharapkan kepedulian para mahasiswa terhadap kesehatan diri sendiri semakin meningkat dan tentu saja meliputi kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar.
Acara kemudian dilanjutkan dengan penyuluhan bekam oleh Thibbun Nabawi. Penyuluhan ini memaparkan tentang sejarah, legalitas dan aspek kesehatan pengobatan dengan menggunakan metode bekam. Selain penyuluhan, diadakan juga seminar kesehatan yang memaparkan metode-metode diet yang baik dan menyehatkan. Dimulai dengan food combining hingga kadar gizi yang baik untuk dikonsumsi.
Sebagai bentuk kepedulian bagi masyarakat sekitar, panitia juga mengadakan penggalangan dana melalui penyelenggaraan konser amal dengan pemberlakuan tarif masuk kepada mahasiswa yang ingin menyaksikan konser amal tersebut. Kepedulian sosial lainnya adalah pelaksanaan donor darah yang bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) dan pengobatan bekam dengan harga khusus bagi para mahasiswa. Acara tersebut juga dilengkapi oleh bazaar buku-buku budaya. (wln)
Sumber : www.ui.ac.id/id/news/archive/3533

