Beasiswa Hubert H. Humphrey
October 21, 2009 by LintasAlumni
Filed under Beasiswa
Ada program beasiswa terbaru dari American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) yaitu beasiswa Hubert H. Humphrey 2010/2011, yang ditawarkan kepada profesional tingkat-menengah Indonesia.
Tawaran beasiswa tersebut merupakan program non-gelar, yang menggabungkan perkuliahan tingkat pascasarjana dengan kegiatan pengembangan keprofesionalan di Amerika Serikat (AS) selama 9 bulan.
Program ini ditawarkan kepada para tenaga administrator dalam posisi memimpin dan berpengalaman kerja paling sedikit lima tahun di lembaga publik atau swasta nir-laba termasuk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berkomitmen pada pelayanan masyarakat. Selain harus bergelar Sarjana (S1) dengan IPK minimal 2.75 (pada skala 4,00), nilai TOEFL paling rendah dimiliki pelamar adalah 525.
Syarat khusus pelamar beasiswa ini mereka yang memiliki latar belakang pendidikan Ilmu Pertanian, Komunikasi/Jurnalistik, Pembangunan Ekonomi, Keuangan dan Perbankan, Manajemen Sumber Daya, Analisa Kebijakan Publik dan Administrasi Publik, Manajemen dan Kebijakan Teknologi, Perencanaan Daerah dan Perkotaan, Manajemen Kebijakan Kesehatan Masyarakat (termasuk di dalamnya mengenai kebijakan dan pencegahan HIV/AIDS, serta pendidikan penyalahgunaan dan pencegahan narkoba. Peneliti, ahli, penyedia kebijakan, atau konseptor program di instansi pemerintah atau swasta juga bisa mengirimkan aplikasi beasiswa ini.
Pendaftaran dibuka mulai Desember 2009 dan ditutup pada 31 Mei 2010 mendatang. Formulir yang sudah dilengkapi dapat dikirim melalui pos atau diantar langsung ke kantor AMINEF di Gedung Balai Pustaka lantai 6, Jl. Gunung Sahari Raya 4, Jakarta, 10720.
Informasi lebih lebih lengkap bisa menghubungi alamat e-mail infofulbright_ind@aminef.or.id.
Holland Education Fair 2009!
October 21, 2009 by LintasAlumni
Filed under Beasiswa
Bagi pelajar Indonesia yang tertarik ingin melanjutkan pendidikan tingginya di Belanda mungkin acara ini bisa jadi sebuah pilihan. Nuffic Neso Indonesia akan menggelar Holland Education Fair (HEF) 2009 di 4 kota besar, yaitu Yogyakarta, Bandung, Jakarta dan Makassar.
HEF 2009 terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Adapun pameran ini akan dimulai dari Yogyakarta pada 10 November 2009 mendatang dan diakhiri di Makassar pada 17 November 2009.
Sebanyak 23 perguruan tinggi dari Belanda akan hadir di HEF 2009 ini. Selain itu, para pengunjung juga bisa mengikuti presentasi dari beberapa program beasiswa seperti HSP Huygens, DIKTI, serta Erasmus Mundus. Jika berminat, siapkan diri untuk bergabung!
Menyambut Hari Pangan Sedunia
October 12, 2009 by LintasAlumni
Filed under Berita
Menjelang hari pangan sedunia pemerintah indonesia sebaiknya melakukan perubahan mindset, karena pemerintah indonesia hingga saat ini belum memperlihatkan keberpihakan yang cukup untuk sektor ini.
Terlihat dari anggaran pada APBN yang dialokasikan di sektor pertanian masih sangat kecil, tidak sebanding dengan alokasi untuk sektor lain, semisal pendidikan. Pertanian semestinya mendapatkan perhatian khusus.
Perhatian yang perlu adalah penambahan anggaran dan kebijakan penyedian pangan, karena hampir sebagian besar sektor perkebunan, terutama kelapa sawit, justru sudah dimiliki pihak Malaysia. Ini bisa saja nanti menjalar ke sektor pertanian ini.
Agar tidak menjalar ke sektor yang lainya sebaiknya pemerintah lebih cepat merubah mindset di sektor pertanian atau bisa melakukan pengenalan sejak dini melalui sektor pendidikan karena hal ini tentu sangat mendukung.
Seminar Nasional Pendidikan IPA
SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN IPA
“Peningkatan Mutu Pendidikan IPA dan Implementasinya dalam Menghadapi Masalah di Era Global”
Latar Belakang
Himpunan Mahasiswa Pendidikan IPA (HIMA IPA) UNY mengadakan Seminar Nasional yang bertujuan dapat meningkatkan kualitas mengajar IPA yang nantinya juga dapat diimplementasikan untuk mengatasi permasalahan di Era Global.
Pelaksanaan
Hari/tanggal : Ahad, 18 Oktober 2009
Waktu : 08.00 WIB s.d. selesai
Tempat :Ruang Seminar Gedung Baru FMIPA Lt. 2 UNY
Pemateri
Pembicara I :
Prof. Dr. Zuhdan Kun Prasetyo, M. Ed. (Guru Besar UNY, Pendidikan IPA) *)
Pembicara II:
Dr. Nurul Taufiqu Rochman,M.Eng
(Nano Teknologi, LIPI)
Biaya pendafataran
Mahasiswa S1 UNY : Rp 35.000,00
Mahasiswa S1 Non-UNY : Rp 40.000,00
Mahasiswa S2 dan Guru : Rp 50.000,00
Pendaftaran
Stand pendaftaran di Gedung Baru FMIPA sayap selatan (depan pintu masuk sayap selatan) mulai 1 Oktober – 11 Oktober 2009 mulai pukul 09.00 – 15.00 WIB.
Depan UPT Perpustakaan UNY tanggal 1 – 11 Okober 2009 mulai pukul 09.00 – 15.00 WIB
Sekretariat HIMA IPA UNY, di Gelanggang Ormawa FMIPA UNY mulai pukul 09.00 – 16.00 WIB.
Via sms atau telpon ke no. 085729601030 (Ayu)
Contact person:
Listy 085762902746
Rara 085292777264
Jika pendaftaran dilakukan via sms atau telpon, maka biaya dapat ditransfer melalui rekening. no. Rekening BRI 673101002212537 atas nama YANI dengan ketentuan sebelum dan setelah membayar, diwajibkan sms ke 085729601030 (Ayu)
sumber : http://www.uny.ac.id/
Undip Bekerjasama Dengan Universitas Rusia
Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang menggalang kerja sama bidang pendidikan bersama Rusia. Dalam kesepahaman itu kedua pihak sepakat akan memberikan informasi tentang kemajuan ilmu pengetahuan serta mengadakan berbagai kegiatan ilmiah seperti seminar yang dirasa perlu oleh kedua belah pihak.
Kerja sama itu mencakup bidang pengembangan dan program pendidikan bersama, riset, publikasi, tukar menukar ahli dan pengajar. Untuk menindaklanjuti hal itu, direncanakan Rektor UNDIP akan berkunjung ke Rusia awal tahun depan. “Banyak peluang yang bisa dilakukan bersama mereka dibandingkan dengan perguruan tinggi di Eropa Barat.
Universitas Rusia merupakan salah satu universitas unggulan di Rusia. Lebih dari 5000 mahasiswa asing saat ini menimba aneka ilmu pengetahuan di semua level pendidikan. Pada tahun ini, sebanyak 39 mahasiswa Indonesia akan mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Rusia. Gelombang pertama sebanyak 21 orang tiba di Rusia 30 September lalu.
UGM Dan PT. PLN Persero Bekerjasama
Dalam rangka mengantisipasi meningkatnya produksi dan kebutuhan listrik, PT. PLN Persero bekerjasama dengan UGM dalam rangka mendidik tenaga ahli keistrikan yang andal.
Tujuan Kerja sama yang dilakukan oleh UGM dan PT PLN tersebut merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk mendidik anak bangsa di bidang kelistrikan, sekaligus memperluas pengetahuan dengan meningkatkan akses pemuda Indonesia usia 17-21 tahun ke jenjang perguruan tinggi yang saat ini baru mencapai 18 persen. Angka tersebut direncanakan pemerintah akan ditingkatkan menjadi 25 persen di tahun 2014.
Kita sangat perlu memperhatikan pendidikan secara komprehensif agar ahli dunia ada di segala bidang. Tentu nantinya akan menguntungkan bagi negara kita sendiri baik untuk mahasiswa ataupun perusahaan tersebut.
Pelajaran Menghitung Itu Mudah
Pelajaran menghitung seringkali jadi perbincangan banyak orang. Banyak sebagian Orang yang menganggap sebagai pelajaran yang menakutkan, hal ini bisa saja dirubah menjadi sesuatu yang menyenangkan dan mudah.
Pelajaran menghitung asyik dan menyenangkan ? sulit rasanya percaya jika pelajaran yang syarat dengan hitung-menghitung itu bisa menjadi sesuatu yang menggembirakan. Betapa tidak pelajaran menghitung sudah terlajur di cap sebagai pelajaran yang menjemukan.
Tetapi tak ada yang tak mungkin, untuk mengembalikan rasa percaya pada pelajaran menghitung menjadi lebih di sukai dan digemari masih ada jalan keluarnya. Lembaga non formal bisa menjadi acuan dengan mengedepankan logika karena dipastikan pelajaran menghitung adalah ilmu pasti.
Banyak berbagai metode yang bisa dijalankan seperti menghafal rumus kemudian dilanjtukan dengan mengerjakan soal latihan. Tetapi tidak ada salahnya dengan membalik metode tersebut dengan memberikan soal terlebih dahulu kemudian baru mencari cara menemukan rumus. tentunya hal tersebut lebih efektif dan menjadi jalan keluar.
Jadi, setelah di coba dengan metode tersebut banyak para siswa yang sangat tertarik dan memahami pelajaran menghitung. Semakain cepat kemampuan murid memahami pelajaran, semakin cepat pula dapat menyelesaikan pendidikan.
Dosen Unpad, Dian Ekawati, Terima Beasiswa Pendidikan S-3 dari Presiden RI
Dosen jurusan Sastra Jerman Fakultas Sastra (Fasa) Unpad, Dian Ekawati, menjadi wakil dosen yang menerima secara simbolis beasiswa pendidikan S-3 ke luar negeri oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Beasiswa yang merupakan bagian dari program Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (Ditjen Dikti) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) ini diserahkan Presiden SBY saat memperingati puncak Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), Selasa (26/05) di Sasana Budaya Ganesha, Bandung.
“Saat itu surat keputusan penerimaan beasiswa diberikan secara simbolis kepada saya dan seorang teman dari Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Kami mewakili teman-teman sesama penerima beasiswa Dikti dari seluruh Indonesia,” tulis Dian dalam surat elektronik yang dikirimkan beberapa waktu lalu.
Wanita kelahiran Bandung, 15 Februari ini mengaku senang dan berterima kasih atas terpilihnya ia sebagai perwakilan penerima beasiswa oleh orang nomor satu di Indonesia itu. Tampilnya Dian sebagai penerima beasiswa itu membawa dirinya diminta menjadi nara sumber dalam sebuah program dialog mengenai kiat mendapatkan beasiswa di Televisi Republik Indonesia (TVRI) Jawa Barat – Banten. “Talkshow langsung di TV menyenangkan juga. Mungkin karena presenter-nya pun teman saya sendiri, jadi saya bisa sangat rileks. 30 menit terasa sangat sebentar,” katanya.
Dian merupakan satu dari ratusan dosen yang memperoleh beasiswa pendidikan S-3 ke luar negeri dari Ditjen Dikti. Menurut rencana, wanita yang telah menyukai bahasa Jerman sejak duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menengah Atas (SMA) ini akan memulai perkuliahan pendidikan doktoralnya pada September mendatang.
Bagi Dian, bahasa Jerman telah menjadi bahasa yang dicintainya sebagaimana dirinya mencintai bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Awal ketertarikan Dian pada Jerman hanya karena keinginannya mengunjungi Museum Coklat di kota Cologne. Keinginan tersebut akhirnya membawa Dian menekuni dunia linguistik Jerman hingga sampai saat ini sering memenuhi panggilan sebagai pembicara dalam seminar dan workshop.
Dian meyakini bahwa kunci membuka dunia adalah dengan menguasai bahasa. Dengan mempelajari bahasa apapun, lanjut Dian, seseorang sedang mempelajari dunia. Menurutnya, melalui bahasa seseorang dapat mempelajari semua yang berhubungan dengan negara pemilik bahasa tersebut. “Lewat bahasa kita bisa mempelajari apapun, mulai dari budayanya, konsep hidup, teknologinya, cara berpikirnya, dunianya. Kita bisa ambil yang bagusnya, kenapa tidak?” ujarnya.
Dengan mempelajari bahasa asing pula, ujar Dian, seseorang menjadi lebih memahami tanah airnya. “Untuk saya pribadi, saya jadi lebih mengenal diri saya, bahasa, dan bangsa saya sendiri. Kebetulan ketika saya menempuh pendidikan S-2 di Jerman dulu, saya juga mengajar bahasa Indonesia di Universitas Bayreuth, tempat saya kuliah,” tambah Dian.
Meski rasa cintanya begitu besar pada bahasa Jerman, namun menurut Dian, tetap saja harus ditekuni dengan baik. Hasil dari kecintaan dan ketekunannya itu, Dian pernah diundang secara khusus untuk menjadi penerjemah pejabat penting di Jerman. Awal Mei lalu, penyuka dunia fotografi ini diminta untuk menjadi penerjemah Heidrun Tempel, Utusan Khusus Kementrian Luar Negeri Jerman di Berlin dalam sebuah acara pembukaan dan diskusi tentang Islam di Jerman. Pada saat yang sama, Dian juga diminta menjadi penerjemah Direktur Goethe Institut Indonesia dan Wakil Gubernur Jawa Barat.
Dari situlah, kata Dian, Direktur Goethe Institut langsung menawari dirinya ikut dalam salah satu proyek terjemahan dan mengikuti kursus menjadi interpreter profesional di Heidelberg atas biaya Goethe Institut. “Saat akhir diskusi, Frau Tempel mengundang saya ke Berlin untuk menemuinya dan menjadi penerjemah dalam acara yang sama di Berlin. Dia meminta saya menerjemahkan semua perkataannya itu agar publik mengetahuinya. Ini momen luar biasa,” sahut Dian bangga.
Penerjemah buku-buku bahasa Jerman ini berpesan bahwa untuk menguasai bahasa asing, seseorang harus lebih dulu menyukai bahasa itu dan coba untuk mendalaminya. “Jangan setengah-setengah,” kata Dian sambil menegaskan bahwa dirinya hingga saat ini masih terus belajar.
Sumber : www.unpad.ac.id/berita/dosen-unpad-dian-ekawati-terima-beasiswa-pendidikan-s-3-dari-presiden-ri/
Pendidikan, Obat Mujarab Atasi Kebodohan dan Kemiskinan
Rasa cinta tanah air dan bangsa yang terangkum dalam semangat patriotisme harus selalu tertanam dalam setiap sanubari rakyat Indonesia. Apalagi, akhir-akhir ini rasa nasionalisme tersebut kian dirasakan tidak sekuat dahulu. Untuk itu perlu digalakan kembali semangat kebangsaan ini. Semangat inilah yang ingin juga ditumbuhkembangkan Unpad demi menciptakan generasi yang sangat mencintai tanah tumpah darahnya.
Hal yang sama juga tersirat jelas dalam orasi Ketua Umum Partai Patriot, KRMH Yapto S. Soerjosoemarno, SH. pada ceramah umum dengan tema “Wawasan Kebangsaan.” Acara yang dilaksanakan pada Selasa (19/05) di Ruang Serba Guna (RSG) Gedung Baru Rektorat Lantai 4 ini juga dihadiri Pembantu Rektor (PR) Bidang Kemahasiswaan, dr. Trias Nugrahadie, Sp.K.N., Mantan PR Bidang Kemahasiswaan, Syarief A. Barmawi, SH., M.Si., Ketua Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Provinsi Jawa Barat (Jabar), H. Tb. Dasep, dan Ketua Satuan Pelajar dan Mahasiswa Pemuda Pancasila Provinsi Jabar, Rezaril Frissandy, serta sejumlah mahasiswa.
Menurut Japto, terdapat tiga tingkatan pengabdian dalam hidup seseorang. Pertama adalah pengabdian kepada Allah S.W.T., kedua, pengabdian kepada negara dan ketiga adalah pengabdian kepada keluarga. Japto mengatakan bahwa keluarga yang ia maksud dapat berarti keluarga biologis, komunitas, maupun organisasi. Ia juga mengungkapkan bahwa pengabdian kepada negara perlu dipupuk untuk menumbuhkan rasa nasionalisme yang kuat dalam diri bangsa Indonesia, khususnya generasi muda. “Nasionalisme tumbuh karena rasa memiliki terhadap tanah air. Rasa memiliki ini akan menimbulkan rasa cinta yang kemudian akan menumbuhkan rasa melindungi apa yang dimiliki walau apapun yang terjadi,” ungkap Yapto.
Dijelaskan Yapto bahwa wawasan kebangsaan ini termaktub dalam sumpah pemuda yang dikumandangkan pada 1928. “Sumpah ini menunjukkan betapa besar dan kuatnya rasa persatuan bangsa Indonesia saat itu. Tapi sekarang bangsa kita terpecah belah karena keinginan dan tujuan yang berbeda-beda. Jika dulu bangsa Indonesia bersatu dan berperang melawan penjajah dalam arti secara fisik. Kini bangsa Indonesia dijajah oleh kapitalis dan itu yang harus diperangi!” tegas Yapto
Ia menilai bahwa selama rasa kebangsaan tersebut tidak tertanam kuat di benak rakyat Indonesia, maka keterpurukan akan terus melanda negara ini. Pria yang juga teman dekat Syarief A. Barmawi ini juga mengingatkan peserta agar selalu waspada terhadap kebodohan dan kemiskinan.
Menurutnya, kedua hal tersebut merupakan musuh nyata bangsa ini karena mampu memicu perpecahan bangsa. Hal ini sangat masuk akal karena demi memenuhi kebutuhan perut, seseorang dapat saja menjadi gelap mata dengan membodohi orang lain, bahkan bisa jadi membodohi keluarganya sendiri.
Yapto mengungkapkan bahwa obat paling mujarab untuk keluar dari kebodohan dan kemiskinan itu adalah dengan pendidikan. “Pendidikan adalah sumber tegaknya suatu negara,” sambungnya. (rth)*
Sumber : www.unpad.ac.id/berita/pendidikan-obat-mujarab-atasi-kebodohan-dan-kemiskinan/



